120 Ribu Warga Salat Idul Fitri di Al-Aqsa, Masjid-masjid di Tepi Barat Bersatu Dukung Gaza


Sekitar 120 ribu jamaah berkumpul di Masjid Al-Aqsa pada Minggu (30/3/2025) pagi untuk melaksanakan salat Idul Fitri. Warga mendatangi mesjid suci ketiga umat muslim itu di tengah pembatasan ketat Israel dan meningkatnya seruan di seluruh Tepi Barat yang diduduki untuk solidaritas Gaza.

Departemen Wakaf Islam di Yerusalem mengungkapkan, meskipun kehadiran pasukan Israel dalam jumlah besar dan adanya pembatasan di pos pemeriksaan, kerumunan besar warga muslim tetap berbondong-bondong menuju kompleks masjid. Polisi Israel dikerahkan dalam jumlah besar di seluruh kompleks tersebut setelah salat subuh.

Beberapa warga Palestina dilarang masuk dan harus melaksanakan salat di luar tembok masjid. Di antara mereka yang dilarang masuk adalah aktivis terkemuka Yerusalem, Mohammed Abu al-Hummus.

Khotbah Idulfitri di berbagai masjid di Tepi Barat berfokus pada serangan Israel yang sedang berlangsung di Gaza. Para khotib menggambarkan serangan itu sebagai genosida yang bertujuan untuk memusnahkan warga Gaza.

Mereka mengimbau para jamaah untuk menunjukkan solidaritas terhadap wilayah yang terkepung dan menahan diri dalam merayakan Idul Fitri sebagai bentuk penghormatan terhadap puluhan ribu orang yang terbunuh.

“Pada saat-saat seperti ini, sebagian orang merayakan Idul Fitri sementara yang lain berduka karena kehilangan anak-anak, saudara, dan seluruh keluarga,” kata Sheikh Jaafar Hashem dalam khotbahnya di Nablus. “Sebagian orang mengenakan pakaian baru, sementara yang lain mencari sesuap makanan untuk memberi makan anak-anak mereka yang kelaparan.”

Dalam pidatonya di Nablus, Sheikh Maher al-Kharraz mengingatkan para jamaah untuk selalu mengingat Gaza di hati mereka “setiap jam sepanjang hari” dan mendukung rakyatnya dengan segala cara yang memungkinkan.

“Perlawanan Gaza telah mengangkat kepala negara-negara Arab dan Islam,” katanya. “Hari ini, Gaza menentang konspirasi baik di dekat maupun jauh.” Al-Kharraz juga memberi penghormatan kepada warga Palestina yang mengungsi di kamp-kamp pengungsi Tepi Barat, khususnya di Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams.

Aktivis Palestina Salah Abdullah mengatakan kepada The New Arab (TNA) bahwa rakyat Palestina bersatu di balik perlawanan mereka yang berani demi Gaza. “Kami merasa kami tidak berbuat cukup banyak untuk rakyat kami di sana, tetapi kami memperoleh kekuatan dari ketahanan dan kesabaran mereka,” katanya.

Hari Minggu ini menandai Idul Fitri ketiga berturut-turut di tengah perang Israel yang menghancurkan Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 50.000 warga Palestina. Ini juga merupakan Idul Fitri pertama sejak pengungsian massal dan penghancuran rumah dimulai di kamp-kamp di Tepi Barat utara Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams.

Serangan militer Israel terhadap Tulkarem telah berlangsung selama 63 hari, di Nur Shams selama 50 hari, dan di Jenin selama 69 hari. Operasi tersebut telah memaksa puluhan ribu orang mengungsi, dengan laporan kerusakan yang meluas pada rumah dan infrastruktur.

Sejak dimulainya serangan pada 21 Januari lalu, setidaknya 80 warga Palestina telah terbunuh di Tepi Barat yang diduduki, di samping ratusan penangkapan, cedera, dan pembongkaran sejumlah rumah.