Viral

Piala AFF 2020, Anak-anak Juara dan Keluarga Indonesia

Apa yang bisa membuat timnas Indonesia juara Piala AFF 2020? Di antara banyak analisis, izinkan saya menceritakan sesuatu yang lain. 

Malam setelah menonton pertandingan Indonesia melawan Malaysia, saat Garuda Muda melibas Harimau Malaya 4-1 di babak penyisihan grup (19/12), saya melihat video keluarga Arhan Pratama di Blora yang bergembira menyaksikan gol hebatnya. Suasana di rumah itu sederhana. Foto-foto Arhan dan sejumlah trofi menghiasi ruangan tengah keluarga. Di atas sebuah TV yang sederhana, terbentang plakat raksasa bertuliskan ‘Best Young Player’ Rp50.000.000. 

Saya merasakan bagaimana keluarga Arhan mencintai gelandang serang muda berusia 20 tahun itu. Saat ia mencetak gol lewat tendangan dari luar kotak penalti, ayah dan ibunya bersorak, paman dan keluarganya yang lain berjingkrak, nama Arhan dielu-elukan. “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Hadiah ulang tahun! Hadiah ulang tahun!” Ujar seseorang di video itu. Arhan berulang tahun 21 Desember, dua hari kemudian setelah pertandingan itu.

Potret keluarga Indonesia

Saya kira, potret inilah yang membuat skuad Garuda di Piala AFF 2020 kali ini berbeda. Anak-anak muda yang menghiasi skuad timnas kita kali ini datang dari keluarga Indonesia yang kuat. Yang membuat mereka menjadi pribadi yang tangguh, dengan karakter yang hebat, sejak dari rumah. Karena mereka mendapatkan cinta, kasih sayang, dan rasa bangga dari keluarga serta komunitasnya.

Saya ingat pernah menonton tayangan TV tentang keluarga Evan Dimas. Juga luar biasa. Kita bisa tahu mengapa playmaker Indonesia bernomor punggung 6 itu moncer di banyak laga internasional yang dilakoni Indonesia, memberi banyak prestasi dan kebanggaan, karena ia punya karakter yang kuat sekaligus membumi. Setiap kali mencetak gol, Evan Dimas melakukan selebrasi sujud syukur. Tak mungkin karakter semacam ini muncul jika tak dididik sejak dari rumah.

Semalam (25/12), saat Coach Shin Tae Yong menarik keluar Alfeandra Dewangga dan digantikan I Kadek Agung Widnyana Putra, kita bisa melihat adegan lain yang menghangatkan hati. Kadek bersiap di pinggir lapangan sambil berdoa menangkupkan kedua tangannya di atas kepala, sementara Alfeandra keluar lapangan langsung meraih tangan Coach STY dan membungkukkan kepalanya. Kita pernah membaca bagaimana pelatih asal Korea Selatan itu terpukau pada manner atau akhlak anak-anak Indonesia yang kerap mencium tangannya sebagai tanda penghormatan.

Mental Juara

Saya kira, inilah kekuatan Indonesia. Kita melihat anak-anak dengan mentalitas juara sekaligus karakter yang kuat. Hampir di setiap pemain kita bisa melihat dan merasakan itu. Bagaimana anak-anak ini tumbuh dengan cinta yang cukup, penghargaan yang cukup, rasa bangga yang cukup, sekaligus kerendahan hati yang muncul karena pendidikan kasih sayang yang cukup. Buat saya, pesan ini juga harus kita sebarkan lebih luas, selain gegap gempita kebanggaan kita mengharap Indonesia keluar sebagai juara, tentu saja.

Saya adalah orangtua yang memiliki anak yang gemar bermain sepak bola. Saat ada turnamen, bisa saban minggu kami mengantar anak bertanding melawan sekolah atau klub bola lain. Di sana saya bisa merasakan bagaimana anak-anak ini tidak bermain bola sendirian, ada orangtua dan keluarga mereka yang selalu mendukung penuh semangat. Berteriak di pinggir lapangan, histeris saat ada yang terjatuh, bersukacita saat timnya menang atau sekadar bikin gol.

Suatu ketika sekolah anak saya melawan British School, tempat Elkan Baggot bersekolah di Bintaro, Tangerang Selatan. Saya tahu bagaimana para orang tua di British School of Jakarta sangat antusias mendukung anak-anak mereka bertanding. Mereka para adalah penonton dan supporter yang sungguh-sungguh. Sampai menyiapkan makanan dan minuman untuk anak-anak mereka yang bertanding. Ada ayah yang menarik ice box ke lapangan, ada ibu yang membawa kursi lipat, ada anak-anak kecil yang menyemangati kakak-kakak mereka bertanding. Saya membayangkan Elkan tumbuh dari kultur sepakbola seperti ini juga, sepakbola yang didukung keluarga dan orang-orang tercinta.

Maka saat saya mengetahui informasi bahwa para pemain lain seperti Asnawi Mangkualam, Witan Sulaiman, Irfan Jaya, Egy Maulana Vikri, Nadeo Arga Winata, Kushedya Hari Yudo, dan lainnya juga tumbuh dari klub-klub bola sejak mereka belia, saya membayangkan peran orangtua dan keluarga mereka di belakangnya. Orang-orang yang memberikan dukungan dan kasih sayang serta rasa bangga yang cukup kepada mereka. Inilah di antara faktor yang menciptakan talenta-talenta yang kita banggakan itu.

Kultur Sepakbola

Tumbuhnya kultur semacam ini di tengah keluarga Indonesia adalah sebuah kabar gembira. Ini menunjukkan bahwa secara ekonomi dan kesejahteraan, banyak keluarga Indonesia di seantero negeri meningkat kualitasnya. Klub-klub bola tumbuh di berbagai daerah. Turnamen di level anak-anak berkembang pesat. Liga Indonesia makin menarik dengan munculnya liga 2 dan 3 yang makin bergengsi. Kita bisa melihat masa depan sepakbola Indonesia dari dimensi yang lainnya. Tak heran jika prestasi dan rangking Indonesia terus meningkat, FIFA menyebut Indonesia sebagai tim paling berkembang di Asia.

Beberapa hari lagi kita akan menonton laga final piala AFF 2020. Indonesia akan menghadapi Thailand atau Vietnam. Saat menonton pertandingan itu, saya sarankan untuk tak ‘nobar’ di kafe atau di luar rumah. Tontonlah pertandingan itu di rumah, bersama keluarga. Kembalikan memori saat dulu kita memasak atau menyiapkan makanan khusus untuk menonton laga penting timnas bersama keluarga. Degdegan bersama, berdoa bersama, bersorak bersama, merayakan kemenangan bersama. Ada pendidikan keluarga yang istimewa pada momen itu.

Beri tahu anak-anak kita betapa hebatnya Rizky Ridho, Fachrudin Aryanto, Ramai Rumakiek, Ricky Kambuaya, dan Hanis Saghara. Ceritakan kepada anak-anak kita betapa para anak muda di skuad Garuda Muda itu punya mental yang luar biasa, daya juang yang hebat, dan skill yang mumpuni karena latihan panjang. Agar menjadi inspirasi untuk anak-anak kita. Tanam dan pupuk jiwa nasionalisme mereka. Katakan, “Lihat garuda-garuda muda itu. Di dadanya ada Indonesia. Di punggungnya mereka memperjuangkan doa-doa dan harapan kita!”

Kita berdoa semoga di final ke-6 nanti, Indonesia juara Piala AFF 2020. Ini saatnya Indonesia bangga dan bangkit kembali. Garuda di dadaku / Garuda kebanggaaku / Kuyakin hari ini pasti menang! Menang, menang, menang! 

Fahd Pahdepie, CEO Inilahcom

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button