6 Puisi Religi Terkenal Karya Sastrawan Indonesia


Religi menjadi salah satu tema yang kerap diangkat dalam penulisan puisi. Puisi dengan tema tersebut akan menggambarkan hubungan antara kita sebagai manusia dengan Sang Pencipta.

Karya sastra hadir sebagai ungkapan perasaan jiwa yang dituangkan dalam bentuk bahasa. Di antaranya mengandung penghayatan batin yang dalam terhadap sesuatu di luar dirinya. Biasanya berupa ungkapan kerinduan, kedekatan atau kecintaannya terhadap Tuhan.

Beberapa pujangga memilih sajak atau puisi sebagai sarana mengungkapkan perasaan kagum dan cinta terhadap sang pencipta. Melalui puisi-puisi ini, beberapa penyair mengakui keagungan dan kebesaran Tuhan melalui kata-kata indah yang mampu menyentuh kalbu pembacanya.

Inilah enam puisi terkenal yang bertemakan religi hasil karya sastrawan Indonesia. Yuk, simak dan resapi maknanya!

1. Padamu Jua (Amir Hamzah)

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kendi kemerlap
Pelita jendela dimalam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu

Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai

Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku

Padamoe Djoea –demikian judul aslinya– adalah puisi 28 baris karya Amir Hamzah yang disertakan dalam koleksinya tahun 1937, Nyanyi Sunyi.

Meski sekilas terlihat seperti puisi yang mengisahkan pertemuan sepasang kekasih yang telah berpisah cukup lama, tapi puisi ini lebih merujuk pada makna tentang pertemuan abadi, yakni perteman seseorang dengan Tuhannya setelah meninggal dunia.

Kekasih tak harus selalu berarti manusia. Kekasih yang dimaksud dalam puisi ini adalah Tuhan yang tak pernah berhenti mencintai meski umat-Nya senantiasa berpaling.

2. Doa (Chairil Anwar)

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namaMu

biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Doa merupakan salah satu puisi Chairil Anwar yang terkenal pada era 1945. Puisi ini mengungkapkan tema religi dan Ketuhanan yang begitu kental, transparan serta mudah dipahami oleh siapapun.

Dalam puisi ini sang penyair juga berusaha menegaskan bahwa jika tak menemukan solusi dalam permasalahan hidup, Tuhan selalu menjadi satu-satunya tempat terbaik untuk kembali.

Kalimat ‘Pengembaraan di Negeri Asing’ merupakan perumpamaan yang mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya hidup ini hanyalah sebuah perjalanan, dan suatu saat kita akan kembali ke tempat kita berasal.

3. Sajadah Panjang (Taufik Ismail)

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

Puisi ini banyak dikenal orang setelah ditransformasikan dalam bentuk lagu oleh Bimbo. Sajadah Panjang karya Taufik Ismail merupakan semacam pengingat pembacanya terhadap Tuhan.

Penyair yang dikenal dengan karya yang bernafaskan sufistik ini membuat semacam pengakuan bahwa karya sastranya adalah sebuah dzikir. Ia juga mengatakan bahwa menciptakan puisi adalah untuk beramal saleh.

Penggunaan kata ‘sajadah’ dalam puisi ini juga merujuk pada kegiatan utama yang dilakukan di atasnya, yakni ibadah salat.

Sebagaimana diketahui, bagi seorang Muslim, salat adalah bentuk ibadah wajib yang selalu mengingatkan dan mendekatkan jarak kita dengan Tuhan, sebelum akhirnya kita benar-benar sampai ke liang lahat dan bertemu langsung dengan Sang Maha Pencipta.

4. Tuhan, Kita Begitu Dekat (Abdul Hadi WM)

Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dengan arahnya
Kita begitu dekat
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Pada bait-bait puisi ini, Abdul Hadi WM menunjukkan perasaan kedekatan dengan Sang Pencipta.

‘Tuhan, Kita Begitu Dekat’ yang mendapat pengulangan sebanyak tiga kali menunjukkan bahwa antara penyair dan Tuhan telah terjalin komunikasi yanng cukup erat.

Ukuran merasa dekat atau tidak dekatnya seseorang dengan Tuhan adalah perbuatan baik yang telah dilakukannya.

5. Ketika Engkau Bersembahyang (Emha Ainun Najib)

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku’ lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan.

Dalam puisi ini, Emha Ainun Najib atau lebih dikenal dengan nama Cak Nun, mengungkapkan keajaiban dalam bersembahyang.

Dengan bersembahyang, jalanan kita menjadi terang, wajah kita menjadi cerah, dan beban hidup akan terasa ringan. Sembahyang adalah kehidupan dan hakikat hidup itu sendiri.

6. Dalam Doaku (Sapardi Djoko Damono)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana 

Doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan mengugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Tak hanya merepresentasikan hubungan antara manusia dan Tuhan, rangkaian kata pada puisi Dalam Doaku juga ditujukan untuk orang-orang sekitar yang kita sayangi.

Puisi ini merupakan salah satu karya Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan Indonesia yang telah melahirkan banyak karya luar biasa.