AS dilaporkan sudah mengeluarkan dana sebesar US$17,9 miliar, atau setara dengan Rp280 triliun, untuk membiayai aksi brutal Israel di Jalur Gaza yang dimulai setahun lalu. Menurut laporan Watson Institute di Brown University, itu merupakan total tahunan tertinggi yang pernah ada.
Mengutip Al Jazeera, Selasa (8/10/2024), bantuan ini terdiri dari pembiayaan militer, penjualan senjata, dan transfer dari persediaan senjata AS. Laporan Watson Institute menyebut sebagian besar persenjataan yang dikirim AS adalah amunisi, termasuk peluru artileri, dan bom seberat 907 kilogram.
Tidak seperti bantuan militer AS yang didokumentasikan secara publik seperti untuk Ukraina, laporan itu menyebut rincian beberapa bantuan militer AS ke Israel ‘sulit dipahami’, sehingga angka US$17,9 miliar itu pun tidak lengkap.
Laporan Watson Institute itu mengeklaim ada upaya pemerintah Presiden AS Joe Biden menyembunyikan jumlah bantuan dan jenisnya, melalui manuver birokrasi.
Israel adalah penerima bantuan militer AS terbesar dalam sejarah, yang menerima US$251 miliar, disesuaikan dengan inflasi sejak 1959.
Meski demikian, besaran bantuan US$17,9 miliar yang dihabiskan sejak 7 Oktober 2023, sejauh ini merupakan bantuan militer terbanyak yang dikirim Israel dalam satu tahun.
Selain bantuan untuk Israel, AS juga menghabiskan US$4,86 miliar, atau setara dengan Rp76 triliun, bagi operasi militer di Yaman dan tempat lain di Timur Tengah.
AS bersama dengan Inggris, melakukan beberapa kali serangan udara terhadap milisi Houthi di Yaman sejak Januari, setelah kelompok dukungan Iran itu mulai menyerang kapal-kapal kargo milik sekutu Israel di sekitar Laut Merah.
Houthi mengeklaim serangan tersebut menargetkan pengiriman barang yang terkait dengan Israel, dan sebagai bentuk dukungan mereka kepada warga Palestina di Gaza.
Pada Juli lalu, 12 mantan pejabat Washington memperingatkan bahwa pengiriman senjata AS ke Israel membuat negara itu terlibat dalam penghancuran Gaza.
“Topeng diplomatik AS untuk Israel dan pengiriman senjata yang terus menerus ke sana, memastikan keterlibatan kita yang tak terbantahkan dalam pembunuhan dan kelaparan paksa penduduk Palestina yang terkepung di Gaza,” kata para pejabat, termasuk mantan anggota Departemen Luar Negeri AS dan militer, dalam sebuah pernyataan bersama.
Meski sesekali menyampaikan kekhawatiran atas perilaku Israel, dan sempat menghentikan pengiriman sejumlah bom pada Mei lalu, Presiden Biden dengan tegas tetap mendukung upaya Israel.
“Tidak ada pemerintah yang membantu Israel lebih dari saya,” kata Biden baru-baru ini.