Israel Ratakan Rumah di Jenin Mengulangi Taktik Pembersihan Etnis di Gaza


Buldoser Israel Selasa (26/2/2025) menghancurkan sebagian besar area kamp pengungsi Jenin yang sekarang hampir kosong dan membuat jalan lebar melalui gang-gangnya. Ini meniru taktik yang digunakan di Gaza saat pasukan bersiap untuk tinggal jangka panjang.

Setidaknya 40.000 warga Palestina telah meninggalkan rumah mereka di Jenin dan kota terdekat Tulkarm di Tepi Barat utara sejak Israel memulai operasinya hanya sehari setelah kesepakatan gencatan senjata di Gaza menghentikan perang selama 15 bulan.

“Jenin merupakan pengulangan dari apa yang terjadi di Jabalia,” kata Basheer Matahen, juru bicara pemerintah kota Jenin kepada Reuters, mengacu pada kamp pengungsi di Gaza utara yang dikosongkan tentara Israel setelah pertempuran sengit selama berminggu-minggu. “Kamp tersebut telah menjadi tidak layak huni.”

Ia mengatakan sedikitnya 12 buldoser sedang bekerja menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur di kamp tersebut. Dulunya kawasan ini merupakan kota padat penduduk menampung keturunan warga Palestina yang dibersihkan secara etnis dari rumah mereka dalam perang tahun 1948 yang dikenal sebagai ‘Nakba’ atau bencana di awal berdirinya negara Israel.

Menurut kantor berita Palestina WAFA, satu peleton tank juga dikerahkan Israel, Minggu (23/2/2025), memasuki kota dari pintu masuk barat dan mencapai kamp Jenin. Militer Israel mengumumkan peleton itu berasal dari brigade lapis baja ke-188.

Matahen mengatakan tim teknik angkatan darat terlihat melakukan persiapan untuk tinggal jangka panjang, membawa tangki air dan generator ke area khusus seluas hampir satu hektar.

Belum ada komentar yang diberikan militer Israel, tetapi Menteri Pertahanan Israel Katz telah memerintahkan pasukan bersiap menghadapi “tinggal dalam jangka panjang”, dengan mengatakan bahwa kamp-kamp tersebut telah dibersihkan untuk tahun mendatang dan penduduk tidak akan diizinkan untuk kembali.

Operasi yang berlangsung selama sebulan di Tepi Barat utara telah menjadi salah satu operasi terbesar sejak pemberontakan Intifada Kedua oleh Palestina lebih dari 20 tahun lalu. Operasi melibatkan beberapa brigade pasukan Israel didukung pesawat tak berawak, helikopter, dan, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tank tempur berat.

“Ada evakuasi penduduk yang luas dan terus berlangsung, terutama di dua kamp pengungsi, Nur Shams, dekat Tulkarm dan Jenin,” kata Michael Milshtein, mantan pejabat intelijen militer yang mengepalai Forum Studi Palestina di Moshe Dayan Center for Middle Eastern and African Studies, kepada Reuters .

Israel melancarkan operasi tersebut, dengan alasan bermaksud untuk melawan kelompok militan yang didukung Iran. Namun, seiring berjalannya waktu, menjadi jelas bahwa maksud sebenarnya dari rencana tersebut tampaknya adalah pemindahan penduduk Palestina secara besar-besaran dan permanen dengan menghancurkan rumah-rumah dan membuat mereka tidak dapat tinggal lama.

“Israel ingin menghapus kamp-kamp dan memori kamp-kamp itu, secara moral dan finansial. Mereka ingin menghapus nama pengungsi dari memori rakyat,” kata Hassan al-Katib, 85 tahun, yang tinggal di kamp Jenin bersama 20 anak cucu sebelum meninggalkan rumahnya dan semua harta bendanya selama operasi Israel.

Banyak warga Palestina melihat gaung seruan Presiden AS Donald Trump agar warga Palestina dibersihkan secara etnis dari Gaza untuk memberi ruang bagi proyek pembangunan properti AS, seruan yang didukung oleh kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan operasi di Tepi Barat utara tampaknya mengulangi taktik yang digunakan di Gaza, di mana pasukan Israel secara sistematis menggusur ribuan warga Palestina saat mereka bergerak melalui daerah kantong itu. “Kami menuntut agar pemerintah AS memaksa negara pendudukan untuk segera menghentikan agresi yang dilancarkannya terhadap kota-kota di Tepi Barat,” katanya.