Profil KH Abdul Wahid Hasyim: Biografi, Pendidikan, Karier, dan Gelar Pahlawan Nasional


Kiai Haji Wahid Hasyim adalah salah satu ulama yang disegani di Indonesia. Ia merupakan anak dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari. 

Semasa hidupnya, KH Wahid Hasyim juga berperan dalam kemerdekaan Indonesia, sehingga diberi gelar pahlawan nasional

KH Wahid Hasyim juga berkecimpung di dunia politik dengan menjadi Menteri Agama pada kepemimpinan Soekarno. 

Biodata KH Wahid Hasyim 

  • Nama lengkap: Abdul Wahid Hasyim
  • Nama panggilan: KH Wahid Hasyim
  • Tempat, tanggal lahir: Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914
  • Wafat: Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953
  • Orang tua: KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah
  • Agama: Islam
  • Pasangan: Nyai Solichah 
  • Anak: 6
  • Pekerjaan: Ulama dan Politikus

KH Wahid Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 1 Juni 1914 pasangan KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah.

Ia menikah dengan Nyai Solichah dan memiliki enam anak yaitu Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi, Salahuddin Wahid, Lily Wahid, dan Hasyim Wahid. 

Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur merupakan presiden Indonesia keempat pada 1999-2001. 

Pendidikan KH Wahid Hasyim

Dilansir dari situs resmi Kemenag, KH Wahid Hasyim sudah khatam Al-Qur’an sejak usianya masih tujuh tahun. 

KH Wahid Hasyim juga mahir menggunakan huruf latin, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris pada usia 15 tahun tanpa menempuh pendidikan kolonial. 

Adapun KH Wahid Hasyim mulai berkelana ke berbagai pondok pesantren sejak berumur 13 tahun, di antaranya Pesantren Siwalan Panji dan Lirboyo.

Setelah dari pesantren, KH Wahid Hasyim meneruskan belajar agama di rumahnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi pengajar di pesantren milik ayahnya yaitu Pesantren Tebuireng.

Setahun kemudian atau tepatnya pada 1932, KH Wahid Hasyim menunaikan ibadah haji sambil memperdalam ilmu agamanya. 

KH Wahid Hasyim tinggal di Makkah selama kurang lebih dua tahun. Setelah kembali ke Tanah Air, ia melakukan sejumlah pembaruan di Pesantren Tebuireng. 

Selain itu, KH Wahid Hasyim juga mendirikan Madrasah Nizhamiyah yang mengajarkan 79 persen ilmu agama dan 30 persen ilmu umum. 

Karier KH Wahid Hasyim 

KH Wahid Hasyim juga aktif di berbagai organisasi. Ia pernah menjadi Ketua Ma’arif paa 1938 dan Ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). 

MIAI kemudian berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang diketuai KH Masyukur dan KH Wahid Hasyim sebagai wakilnya. 

KH Wahid Hasyim pun pernah dipercaya mengisi kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1951-1953. 

Ia juga memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). 

KH Wahid Hasyim juga termasuk Panitia Sembilan yang merumuskan rancangan dasar negara Indonesia. 

Ia pun punya peranan krusial sebagai penghubung kalangan Islam dan nasionalis hingga tercapai kesepakatan bersama dalam Pembukaan UUD 1945. 

Perubahan “Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” tak lepas dari peran KH Wahid Hasyim. 

Setelah Indonesia merdeka, KH Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama selama tiga periode, yakni dalam Kabinet Hatta (1949-1950), Kabinet Natsir (1950-1951), dan Kabinet Sukiman (1951-1952). 

Setelah tidak lagi menjadi menteri, KH Wahid Hasyim mendirikan Liga Muslimin Indonesia bersama Abikusno Tjokrosujoso dan KH Siradjuddin Abbas. 

Gelar Pahlawan Nasional 

Dalam situs resmi NU Online, disebutkan bahwa KH Wahid Hasyim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 24 Agustus 1964 melalui Keppres Nomor 206 tahun 1964. 

Gelar Pahlawan Nasional untuk KH Wahid Hasyim lebih dulu diberikan daripada sang ayah, KH Hasyim Asy’ari. 

Pendiri NU itu baru ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964 melalui Keppres Nomor 294 Tahun 1964. 

Wafatnya KH Wahid Hasyim 

KH Wahid Hasyim meninggal dunia saat berusia 38 tahun pada 19 April 1953 akibat kecelakaan mobil di Cimahi, Jawa Barat. 

Pada 18 April 1953, KH Wahid Hasyim pergi bersama putra pertamanya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan seorang supir untuk menghadiri pertemuan Partai NU se-Karesidenan Priangan. 

Mobil KH Wahid Hasyim terpeleset dan tertabrak truk dari belakang akibat hujan lebat. KH Wahid Hasyim dimakamkan di area Pesantren Tebuireng.

.

.

Dapatkan Informasi Terupdate dan Paling Menarik Seputar Mozaik Islam di Laman Google News Inilah.com.