Ini Faktor yang Bikin Investor Ragu hingga Berdampak ke Ekonomi Indonesia


Muhammad Anwar, Peneliti dari Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), mengingatkan salah satu faktor utama yang sering membuat investor ragu adalah inkonsistensi kebijakan.

Pernyataan itu disampaikan setelah muncul kabar Presiden RI Prabowo Subianto berencana berdialog setelah libur Lebaran dengan investor dan pihak terkait menyusul nilai tukar Rupiah yang terus melemah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat jeblok ke angka 5 persen hingga Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit.  

“Inkonsistensi kebijakan itu contohnya perubahan aturan yang mendadak, intervensi pemerintah yang berlebihan, hingga ketidakpastian hukum yang membuat kepastian berusaha menjadi sulit. Jika pertemuan ini (Prabowo dengan investor) hanya menjadi ajang persuasi tanpa ada jaminan kebijakan yang lebih jelas dan stabil, maka hasilnya tidak akan optimal,” kata Anwar kepada inilah.com, Minggu (30/3/2025).

Selain itu, investor juga akan memperhitungkan aspek sosial, seperti respons publik terhadap kebijakan pemerintah. Jika masyarakat merasa kebijakan hanya berpihak pada investor saja, tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat, maka resistensi sosial bisa muncul, yang pada akhirnya juga menjadi risiko bagi investasi itu sendiri.

Dalam konteks kepentingan rakyat, perbaikan iklim investasi juga harus dilakukan dengan prinsip keadilan ekonomi. Jangan sampai upaya menarik investasi hanya berfokus pada insentif bagi korporasi besar tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, seperti penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, peningkatan kesejahteraan tenaga kerja, dan keberlanjutan lingkungan.

“Jika pemerintah benar-benar ingin menarik dan mempertahankan investor, maka reformasi kebijakan harus diarahkan untuk menciptakan lingkungan usaha yang sehat, transparan, dan berkelanjutan serta bukan sekadar mengandalkan diplomasi ekonomi sesaat,” kata Anwar.

Dia mengingatkan kepercayaan investor hanya bisa dibangun dengan kebijakan yang konsisten, transparan, dan berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan begitu, manfaat investasi tidak hanya dinikmati oleh segelintir elite, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.

Sebelumnya sektor keuangan Indonesia pada Selasa (18/3/2025) dikejutkan dengan anjloknya IHSG sampai ke level 5 persen. Bukan hanya itu, nilai tukar Rupiah pada Selasa pagi (25/3/2025) Rupiah melemah sebanyak 0.54 persen atau menjadi Rp16.640 per dolar AS (Amerika Serikat). Pelemahan itu nyaris mendekati titik terendah pada 1998 saat Rupiah menyentuh angka Rp16.800 per dolar AS selama krisis keuangan di Asia.

Kondisi ini telah menimbulkan waswas terkait dengan kebijakan Indonesia, juga kekhawatiran terhadap posisi fiskal negara dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.