Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan negara merekrut 160 ribu prajurit pada Juli 2025, angka yang lebih tinggi dari program wajib militer sebelumnya.
Putin menguraikan rencana untuk wajib militer musim semi tahun ini dalam sebuah dekrit yang diterbitkan pada Senin (31/3/2025).
Jumlah peserta wajib militer yang direncanakan naik menjadi 160 ribu dari 150 ribu pada 2024 dan 134 ribu pada 2022, ketika Rusia melancarkan serangannya ke Ukraina.
Putin sebelumnya memerintahkan ntuk menambah jumlah tentaranya menjadi 1,5 juta prajurit aktif, peningkatan sekitar 180 ribu tentara selama tiga tahun.
“Kampanye wajib militer yang akan datang sama sekali tidak terkait dengan operasi militer khusus di Ukraina,” kata Kementerian Pertahanan di media sosial, seperti dikutip dari AFP, Selasa (1/4/2025).
Selain dari program wajib militernya, Rusia telah merekrut ratusan ribu orang untuk menyerang Ukraina sebagai tentara kontrak berbayar, dengan menawarkan gaji tinggi dan bonus pendaftaran yang besar.
Rusia mengadakan gelombang wajib militer pada musim semi dan musim gugur, dengan pria berusia 18 hingga 30 tahun yang memenuhi syarat untuk dipanggil. Sebelumnyaa Putin menaikkan batas usia atas dari 27 tahun pada tahun 2023.
Pemanggilan wajib militer musim semi akan berlangsung dari 1 April hingga 15 Juli 2025, menurut keputusan Putin.
Meskipun berjanji bahwa wajib militer tidak akan dikirim ke wilayah perang, Rusia merekrut lebih dari 300 ribu personel ‘cadangan’ pada 2022 untuk serangannya ke Ukraina dalam apa yang disebutnya sebagai ‘mobilisasi parsial’.
Keputusan tersebut memicu ratusan ribu orang meninggalkan negara itu untuk menghindari wajib militer.