JP Morgan: Bakal Ada ‘Pertumpahan Darah’ Imbas Kebijakan Tarif Trump


Kebijakan tarif impor terbaru yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump kepada negara-negara mitra dapat membuat gejolak ekonomi di global, termasuk di Indonesia, Kamboja, dan Malaysia.

Namun, tak hanya berpengaruh kepada negara mitra dagang AS, kebijakan tarif ini juga akan berdampak buruk ke perekonomian AS itu sendiri. Hal tersebut diungkap oleh JP Morgan, perusahaan jasa keuangan multinasional yang bergerak di bidang perbankan, investasi, dan manajemen aset.

JP Morgan menilai potensi AS terkena resesi semakin besar dengan adanya kebijakan tarif baru ini. Kepala ekonom global JP Morgan Bruce Kasman memiliki pandangan suram terhadap kebijakan tarif agresif Presiden Trump. Dia mengatakan akan ada ‘pertumpahan darah’ akibat kebijakan Trump tersebut.

Dalam catatan penelitian kepada klien yang diterbitkan pada Kamis (3/4/2025), Kasman memperingatkan risiko ekonomi global jatuh ke dalam resesi telah meningkat dari 40 persen menjadi 60 persen sebagai respons terhadap pengumuman kebijakan tarif pada Rabu (2/4/2025) lalu.

“Kebijakan AS yang disruptif telah diakui sebagai risiko terbesar bagi prospek global sepanjang tahun,” ujar Kasman, berdasarkan riset JP Morgan, seperti dikutip dari Business Insider, Sabtu (5/4/2025).

“Berita terbaru memperkuat kekhawatiran kami karena kebijakan perdagangan AS telah berubah secara drastis menjadi kurang bersahabat bagi bisnis daripada yang kami perkirakan,” tambahnya.

Para ekonom raksasa perbankan itu menggambarkan tarif ‘pada tingkat dasar’ sebagai peningkatan pajak fungsional atas pembelian barang impor oleh rumah tangga dan bisnis AS.

Mereka juga mengatakan bahwa peningkatan biaya impor yang disebabkan oleh rencana tarif Trump diperkirakan akan mengakibatkan harga yang lebih tinggi untuk segala hal mulai dari bahan pokok hingga pakaian dan pembelian yang lebih besar seperti mobil serta peralatan.

Analis JP Morgan mendapati bahwa pengumuman minggu ini, menyusul kenaikan tarif sebelumnya, menaikkan tarif pajak rata-rata AS ‘sekitar 22 persen poin menjadi sekitar 24 persen’, setara dengan sekitar 2,4 persen dari total nilai semua barang dan jasa yang diproduksi di negara tersebut.

“Kenaikan sebesar ini akan setara dengan kenaikan pajak terbesar sejak Perang Dunia II. Dampaknya dapat diperbesar melalui pembalasan, penurunan sentimen bisnis AS, dan gangguan rantai pasokan,” ungkap riset JP Morgan.

“Oleh karena itu, kami menekankan bahwa kebijakan ini, jika dipertahankan, kemungkinan akan mendorong ekonomi AS dan mungkin global ke dalam resesi tahun ini. Pembaruan pohon skenario probabilitas kami menegaskan hal ini, meningkatkan risiko resesi tahun ini menjadi 60 persen,” lanjut riset tersebut.

Namun, resesi nasional atau global bukanlah suatu kesimpulan yang sudah pasti, ekonom JP Morgan menawarkan sebagai hikmah positif yang mungkin bisa dipetik.

“Di luar poin yang jelas bahwa tindakan kebijakan dapat diubah dalam beberapa minggu mendatang, kami terus menekankan bahwa ekspansi AS dan global berdiri kokoh dan harus mampu menahan guncangan berukuran sedang,” ujar riset JP Morgan.

Meski begitu, untuk saat ini, para ekonom JP Morgan memandang implementasi penuh dari kebijakan yang diumumkan sebagai guncangan ekonomi makro yang substansial dan dapat menjadi guncangan ekonomi yang tidak mudah untuk diatasi, jika kebijakan Trump terus berlanjut.

Sebelumnya pada Rabu lalu, Trump resmi mengumumkan tarif besar sebesar 10 persen pada barang-barang dari negara mana pun yang diekspor ke AS dan tarif yang lebih tinggi lagi untuk 60 negara mitra dagang AS, dengan defisit perdagangan terus-menerus dengan AS.

Tarif ‘Hari Pembebasan’ yang berlaku luas ini berdampak pada negara-negara termasuk China dan Jepang, serta Uni Eropa, bahkan negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Kebijakan tarif ini merupakan tambahan dari tarif yang berlaku saat ini terhadap mitra dagang utama AS, Kanada dan Meksiko.