Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan pengurangan besar-besaran hingga 90.000 prajurit tugas aktif. Kebijakan ini dapat menurunkan jumlah pasukan hingga hanya 360.000 tentara.
Potensi pengurangan pasukan ini sejalan dengan upaya yang lebih luas dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menerapkan pemotongan 8% pada anggaran Pentagon. Fox News menyoroti kebijakan ini yang mencerminkan perubahan strategis dari operasi di Eropa dan misi antiterorisme.
Perubahan yang diusulkan merupakan bagian dari inisiatif lebih luas untuk membentuk kembali Angkatan Darat menjadi kekuatan lebih ramping, lebih gesit, dan berteknologi maju. Perubahan ini dirancang untuk menghadapi tantangan masa depan, khususnya di Indo-Pasifik, di mana China dipandang sebagai pesaing strategis utama.
“Kami membangun lebih banyak kekuatan tempur sambil mengurangi staf dan biaya overhead. Kekuatan Akhir bahkan mungkin meningkat,” kata juru bicara Angkatan Darat Cynthia Smith mengutip Fox News Digital. Ia menjamin meskipun staf dan biaya overhead dapat dikurangi, kekuatan tempur secara keseluruhan — dan bahkan ukuran pasukan — dapat meningkat tergantung pada bagaimana restrukturisasi dilaksanakan.
Meskipun angka pastinya belum dikonfirmasi secara resmi, pertimbangan internal menunjukkan bahwa kekuatan tugas aktif Angkatan Darat dapat dikurangi dari 450.000 tentara menjadi sekitar 360.000 hingga 420.000.
Seorang pejabat pertahanan memperingatkan tentang potensi konsekuensi negatif jika pemotongan tersebut dilanjutkan tanpa perencanaan yang matang. “Jika kita mengurangi kekuatan tanpa strategi retensi yang jelas, kita berisiko kehilangan orang-orang berbakat,” kata pejabat itu mengutip Military.com.
Tahun lalu, Angkatan Darat AS menghilangkan sekitar 24.000 posisi terkait dengan misi antiterorisme. Meskipun menghadapi tantangan perekrutan dalam beberapa tahun terakhir, layanan ini memenuhi target pendaftaran tahun 2024 sejumlah 55.000 pada akhir tahun fiskal pada bulan September.
Sementara itu, jenderal tinggi AS di Eropa memperingatkan pada hari Kamis bahwa diskusi internal Pentagon tentang restrukturisasi elemen-elemen militer AS, termasuk kemungkinan melepaskan kepemimpinan lama Amerika Serikat atas pasukan NATO di Eropa dan mengkonsolidasikan komando militer, dapat menghadirkan tantangan serius.
Jenderal Christopher Cavoli, komandan Komando Eropa AS dan Panglima Tertinggi Sekutu NATO di Eropa (SACEUR), mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat bahwa penggabungan Komando Eropa dan Afrika AS akan secara signifikan meningkatkan kapasitas militer. “Saya akan bertanggung jawab atas 50 negara lagi… itu akan menjadi hal yang berlebihan,” ungkapnya.
Komando Afrika AS dipisahkan menjadi entitasnya sendiri pada tahun 2008 untuk menangani kepentingan keamanan nasional AS tertentu di benua tersebut.
Hegseth juga dilaporkan mempertimbangkan apakah peran SACEUR — yang selama ini dipegang secara eksklusif oleh warga Amerika sejak berdirinya NATO — harus tetap diisi oleh pejabat militer AS. Kemungkinan ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang implikasi bagi komando dan kendali nuklir, serta prospek pasukan Amerika ditempatkan di bawah kepemimpinan non-AS. “Saya pikir itu adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan secara hati-hati,” kata Cavoli.
Pertimbangan ini muncul di tengah meningkatnya kegelisahan di Eropa mengenai masa depan NATO, landasan keamanan Eropa selama 75 tahun. Meskipun militer AS mempertahankan kekuatan lebih dari 100.000 tentara di Eropa, Hegseth telah memberi tahu rekan-rekannya di Eropa bahwa mereka tidak boleh berasumsi bahwa kehadiran AS di benua itu tidak terbatas.
Beberapa anggota parlemen Amerika telah menyatakan kekhawatiran atas usulan perubahan tersebut. Hegseth mengkritik jumlah jenderal berpangkat tinggi, dengan alasan militer didominasi oleh perwira bintang tiga dan empat.