Gallery

Dear Muslim Perhatikan Unggahan Anda, Sudahkah Bijak Bermedia Sosial?

Arus informasi yang sangat deras kita dituntut untuk pandai dalam membedakan antara manfaat dan mudarat dalam bermedia sosial (medsos) di era digital sekarang ini. Lalu bagaimana cara kita memilah informasi dan bijak dalam bermedia sosial?

Dalam bermedsos, kita terkadang terbawa arus informasi yang menyesatkan lantaran konten yang disajikan seolah mengandung kebenaran. Padahal, sesungguhnya tertipu.

Memang, medsos kini sudah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Bermacam aplikasi layanan yang tersedia menjadi daya tarik tersendiri bagi kebanyakan orang untuk terus menggunakan medsos sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi.

Namun, kebebasan dalam bermedsos terkadang tidak dibarengi dengan etika yang apik dalam penggunaannya, sehingga lebih banyak menimbulkan mudarat daripada manfaatnya.

Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU Nurul Basruttamam memberikan rambu-rambu yang harus dipahami untuk mencirikan kita sebagai muslim berakhlak.

“Kebebasan dalam bermedsos ria tak jarang menimbulkan berbagai problematika di tengah masyarakat,” kata Nurul.

Berita bohong

Dia mengungkapkan, informasi yang beredar sering tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya hoaks, fitnah, ghibah, namimah, gosip, fitnah, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmonisasi sosial.

Adab pertama yang harus diperhatikan seorang muslim dalam bermedsos adalah muraqabah (merasa selalu diawasi Allah).

Apapun yang kita sebarluaskan di media sosial, termasuk niat di balik postingan tersebut harus disadari bahwa Allah Maha Mengetahui.

Dengan selalu merasa diawasi Allah, kita hanya akan menggunakan media sosial untuk hal-hal yang membawa maslahat.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Jika kamu menampakkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 54).Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia dalam fatwanya Nomor 24 Tahun 2017 menyampaikan tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial.

Fatwa Bermedsos

Fatwa ini mengatur tentang hubungan sosial sesama manusia mulai dari mengirim pesan di media sosial hingga cara memastikan kebenaran informasi yang beredar.

Seorang muslim harus senantiasa meningkatkan keimanan, mempererat persaudaraan, mengokohkan kerukunan, dan tidak mengajak kepada hal-hal yang maksiat.

Penting bagi seorang muslim untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) ketika mendapatkan informasi yang belum tentu kebenarannya.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Hujurat: 6

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.“Seorang muslim dalam menyampaikan informasi harus dengan benar. Islam mengajarkan opini yang jujur dan didasarkan pada bukti dan fakta serta diungkapkan dengan tulus.

Tidak menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya di media sosial. Istilah ini disebut qaul zur yang berarti perkataan buruk atau kesaksian palsu.

Firman Allah SWT pada Q.S. Al-Hajj: 30:

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”Perintah untuk amar ma’ruf nahi munkar idealnya juga dipedomani seorang muslim dalam bermedsos.

Sudah saatnya medsos harus dipergunakan untuk mengajak kepada kebaikan, menyalurkan konten positif melalui berbagai platform yang saat ini banyak digemari masyarakat.

Sosial media seperti Youtube, Tiktok, Twitter, Facebook, Instagram, dsb merupakan media yang tepat dan mudah untuk menyebarluaskan kebaikan yang bertanggung jawab. Dan kita harus menjadi orang-orang yang masuk dalam golongan amar ma’ruf nahi munkar.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran: 104:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”Di tengah arus globalisasi dan gencarnya informasi yang tiada henti setiap detiknya saat ini, semoga kita semakin bijaksana dan arif dalam bermedsos ria.

Akhlak yang mencerminkan pribadi muslim harus tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari, sehingga berbagai fasilitas dan kemudahan zaman dapat membawa maslahat untuk umat, bangsa dan negara kita. Wallahu a’lam bisshawab.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button