Digandoli Tekor Rp1,2 Triliun, ‘Kepakan Sayap’ Garuda Semakin Berat


Sepanjang 2024, PT Garuda Indonesia (Persero/GIAA) Tbk mengoleksi kerugian hingga US$72,7 juta. Atau setara Rp1,2 triliun (asumsi Rp16.000/US$). 

Capaian ini boleh disebut ‘terjun bebas’ 120 persen ketimbang capaian 2023 yang mampu mengoleksi laba US$250,04 juta (Rp4 trilun).

Oleh karena itu, kerugian akibat anjloknya harga saham dasar dan dilusi, menjadi US$0,00079, sebelumnya surplus US$0,00273.

Di sisi lain, total pendapatan usaha naik 16,4 persen menjadi US$3,41 miliar, tahun sebelumnya US$2,93 miliar.

Kenaikan pendapatan usaha disumbang dari penerbangan terjadwal besar US$2,74 miliar. Atau naik dari sebelumnya US$2,37 miliar.

Dan, penerbangan tidak terjadwal senilai US$333,75 juta, surplus dari US$288,03 juta. Pendapatan lainnya US$340,36 juta, naik dari sebelumnya US$270,58 juta.

Jumlah beban usaha US$3,1 miliar, bengkak dari sebelumnya US$2,62 miliar. Terdiri dari beban operasional penerbangan US$1,66 miliar, bengkak dari sebelumnya US$1,52 miliar.

Beban pemeliharaan dan perbaikan US$536,95 juta, bengkak dari sebelumnya US$386,6 juta. Beban kebandaraan menjadi US$252,27 juta, bengkak dari sebelumnya US$202,5 juta.

Beban umum dan administrasi US$212,22 juta, naik dari US$176,82 juta. Beban pelayanan penumpang US$221,63 juta, bengkak dari sebelumnya US$163,48 juta.

Beban tiket, penjualan, dan promosi mencapai US$179,3 juta, bengkak dari sebelumnya US$139,7 juta. Beban operasional hotel mencapai US$20,14 juta, naik tipis dari US$20,1 juta.

Beban operasional transportasi US$12,42 juta, bengkak dari sebelumnya US$11,4 juta.

Beban operasional jaringan US$5,03 juta, bengkak dari US$4,32 juta. Untung selisih kurs US$18,04 juta, meroket dari tekor US$20,85 juta. Bagian atas hasil bersih entitas asosiasi US$7,37 juta, naik dari US$3,69 juta.

Pendapatan perseroan mencapai US$9,2 juta, naik dari sebelumnya US$6,06 juta. Beban keuangan US$479,89 juta, naik dari sebelumnya US$456,78 juta.

Pendapatan lain-lain mencapai US$55,18 juta, anjlok dari sebelumnya US$344,79 juta. Manfaat pajak US$11,68 juta, susut dari sebelumnya US$17,4 juta. 

Sedangkan rugi tahun berjalan, mencapai US$69,77 juta, longsor dari 2023 yang untung US$251,99 juta. Total ekuitas minus US$1,35 miliar, bengkak ketimbang sebelumnya sebesar US$1,28 miliar.

Maskapai pelat merah ini, mengalami defisit US$3,5 miliar, naik ketimbang sebelumnya US$3,43 miliar.

Sedangkan total liabilitas alias utang mencapai US$7,97 miliar, susut dari akhir 2023 senilai US$8,01 miliar.

Sedangkan nilai aset yang dimiliki Garuda mencapai US$6,61 miliar, atau anjlok ketimbang akhir 2023 senilai US$6,72 miliar.