Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif timbal balik pada 2 April 2025 yang langsung memantik spekulasi. Sejumlah pengguna media sosial menuding bahwa formula tarif tersebut identik dengan hasil dari chatbot AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Grok.
Klaim bermula dari DCinvestor, seorang kolektor NFT, yang menyebut bahwa ia berhasil mendapatkan rumus tarif identik dengan kebijakan Trump hanya dengan prompt sederhana di ChatGPT.
“ChatGPT bilang ini belum pernah diformalkan sebelumnya. FFS, Trump pakai ChatGPT untuk bikin kebijakan dagang,” tulisnya.
Trader kripto Cobie juga menunjukkan hal serupa. Ia meminta ChatGPT memberikan cara mudah menetapkan tarif untuk mengimbangi defisit dagang, dengan batas bawah 10%. Jawaban chatbot AI itu persis sama dengan rumus tarif yang diumumkan Trump: membagi nilai defisit dagang AS dengan jumlah impornya dari tiap negara.
Editor Journal of Public Economics, Wojtek Kopczuk, menguji ulang dengan hasil yang sama. Ia menyindir,
“Hasil ChatGPT ini seperti pekerjaan murid paling bodoh di kelas – mentah, tanpa perbaikan.”
Penulis Krishnan Rohit menyebut kesamaan ini sebagai “aplikasi skala besar pertama AI dalam geopolitik”, mengingat seluruh AI chatbot populer menghasilkan jawaban yang serupa.
CEO Flexport, Ryan Petersen, mengaku telah membalikkan rumus tarif Trump.
“Cukup ambil defisit dagang AS terhadap satu negara, lalu bagi dengan nilai impor dari negara itu,” ujarnya. Editor The Yale Review, James Surowiecki, menyampaikan analisis senada.
Indonesia Kena Tarif 32%
Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada negara-negara besar. Indonesia turut masuk daftar dan dikenai tarif impor sebesar 32% yang mulai berlaku 9 April 2025. Nilai tersebut jauh di atas ambang minimum 10% dan lebih tinggi dari tarif untuk Uni Eropa (20%) dan Jepang (24%).
Data Kementerian Perdagangan mencatat AS sebagai mitra dagang utama Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai US$24,6 miliar pada 2023. Sektor otomotif dan elektronik menjadi yang paling rentan terkena dampak tarif baru.
Pemerintah Indonesia saat ini sedang menyiapkan misi diplomatik ke Washington untuk membuka jalur negosiasi. Tujuannya adalah menekan tarif dan menjaga stabilitas perdagangan bilateral.