Inersia

Jemaah Haji dengan Komorbid Diabetes, Gunakan Alas Kaki yang Tepat

Jemaah Haji dengan komorbid diabetes diimbau untuk menggunakan alas kaki yang tepat. Hal tersebut merujuk pada Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah yang kini merawat sepuluh pasien diabetic foot.

Tim dokter KKHI Makkah, dr. Ahmad Syahri, Spesialis Penyakit Dalam menuturkan, neuropati merupakan salah satu komplikasi dari diabetes, yaitu terjadinya gangguan syaraf akibat penyakit diabetes yang ditandai dengan kesemutan, nyeri, atau mati rasa yang lebih sering menyerang syaraf kaki.

“Saraf- sarafnya menjadi tidak sensitif. Sehingga ketika berjalan misalnya lupa pakai alas kaki, terkena trauma dan akhirnya mengalami luka,” kata dr. Ahmad, mengutip dari siaran pers, Makkah, Sabtu, (25/6/2022).

Untuk luka kecil atau ringan, lanjut dr. Ahmad, cukup dioleskan dengan salep atau perawatan yang biasa, pasien bisa melanjutkan aktivitas. Namun kondisi ini berbeda halnya jika sampai terjadinya infeksi pada luka, harus dilakukan rawatan lebih lanjut.

“Apabila sampai terjadi luka infeksi perlu perawatan luka sampai debridement atau perawatan luka kaki khusus,” lanjutnya.

Sehingga penting bagi jemaah haji yang mempunyai riwayat diabetes untuk memperhatikan kakinya, melihat apakah ada tanda-tanda luka.

“Apalagi dengan cuaca yang panas dan kering seperti di Arab Saudi, kulit kaki lebih mudah kering, pecah pecah, sampai terjadinya luka yang tidak disengaja,” tambah dr. Ahmad.

Pencegahan terbaik menurut dr. Ahmad adalah jangan sampai terjadi luka di kaki. Sekalipun terjadi luka, sebaiknya segera diobati, agar tidak mengarah Pada kondisi infeksi bahkan sepsis.

“Jadi pencegahannya kalau diabetes adalah jangan sampai ada luka terutama luka di kaki,” ujar dr. Ahmad.

Untuk itu dr. Ahmad menyarankan Jemaah haji untuk menggunakan alas kaki yang dirasakan paling nyaman dan tidak akan melukai kaki.

“Prinsipnya tetap melihat kenyamanan dari penggunaannya,” saran dr. Ahmad.

Hal ini penting dilakukan, mengingat jarak yang harus ditempuh jemaah haji. dr. Ahmad mencontohkan, jarak tempuh yang harus dilalui jemaah untuk melakukan ibadah di masjidil haram dari terminal Syib Amir kurang lebih sejauh 1 km pulang pergi.

“Belum lagi nanti di Masjidil haram untuk melakukan tawaf dan sa’i ,” jelasnya.

dr.Ahmad juga berpesan kepada para Tenaga Kesehatan Haji (TKH) kloter untuk memetakan jemaah haji yang sudah memiliki komorbid, dan melakukan deteksi masalah kesehatan jemaah sedini mungkin.

“Semakin cepat terdeteksi masalah kesehatannya dan semakin cepat ditangani tentu akan semakin lebih baik hasilnya. Kalaupun ada kasus yang tidak bisa ditangani di kloter kami dari KKHI siap 24 jam untuk menerima,” pesan dr. Ahmad.

Back to top button