Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono, menilai turunnya jumlah pemudik secara signifikan pada tahun ini harus menjadi perhatian serius pemerintah.
“Mudik bagi masyarakat Indonesia telah menjadi sebuah ritual wajib. Mudik tidak hanya sekedar fenomena sosial, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mudik telah menjadi fenomena spiritual yang harus dilakukan dalam kondisi apapun,” tutur Yusuf kepada inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Selasa (1/4/2025).
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) diproyeksikan terjadi penurunan jumlah pemudik pada 2025 sebanyak 24 persen —dari 193,6 juta menjadi 147,1 juta orang
Menurut Yusuf, kondisi ini mengindikasikan adanya kejatuhan pendapatan dan daya beli yang sangat signifikan yang dialami oleh banyak kalangan masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah.
“Hanya kejatuhan daya beli yang luar biasa yang membuat masyarakat kita memutuskan untuk tidak melakukan mudik,” tegasnya.
Yusuf mengatakan Indonesia menghadapi tantangan serius dengan semakin rapuhnya kelas menengah, yang selama ini dianggap sebagai pilar utama perekonomian nasional. Dalam lima tahun terakhir, jumlah kelas menengah terus menyusut secara signifikan, menempatkan masa depan ekonomi Indonesia dalam kondisi rentan.
Kelas menengah yang kuat sangat penting untuk mendorong Indonesia mencapai status negara berpendapatan tinggi. Kelas menengah yang besar dan kuat adalah pondasi terpenting menuju negara maju. Namun Yusuf menilai dalam lima tahun terakhir, kelas menengah Indonesia justru semakin rapuh dan mengecil.
Kelas menengah adalah mesin pertumbuhan ekonomi, dengan daya beli yang kuat dan peran penting dalam mendorong konsumsi. Jika kelas menengah terus menurun, ini akan berdampak negatif pada perekonomian kita secara keseluruhan.
Yusuf menilai penyebab utama penurunan kelas menengah ini adalah menurunnya lapangan pekerjaan di sektor formal, terutama akibat kejatuhan industri manufaktur. Kejatuhan kelas menengah ke kelas ekonomi yang lebih rendah, banyak terkait dengan semakin turunnya peran sektor formal sebagai sumber penghidupan penduduk kelas menengah.
Kelas menengah memiliki ketergantungan yang tinggi pada industri manufaktur dan sektor formal, terutama perusahaan besar dan menengah, sebagai penyedia lapangan kerja dengan tingkat penghasilan yang memadai.
“Seiring kejatuhan peran industri manufaktur dan sektor formal dalam menyediakan lapangan kerja, penduduk kelas menengah mengalami keruntuhan. Banyak pekerja kelas menengah dipaksa untuk menerima pekerjaan dengan penghasilan yang lebih rendah, atau bahkan beralih ke sektor informal, yang mengakibatkan penurunan daya beli dan konsumsi,” ungkap Yusuf.
Dalam lima tahun terakhir, dinamika mobilitas ekonomi masyarakat Indonesia didominasi oleh kejatuhan ekonomi kelas menengah, dan terlihat semakin memburuk satu tahun terakhir ini.
Menurut Yusuf, untuk mengatasi kejatuhan daya beli masyarakat ini, pemberian bantuan sosial (bansos) bukanlah solusi jangka panjang. Menjadi krusial bagi pemerintah untuk secepatnya melindungi industri manufaktur dari kejatuhan, dan mendorong pengembangan industri yang akan menciptakan lapangan kerja secara luas seperti industri padat karya, industri kreatif hingga pariwisata.
Selain itu, Yusuf menekankan reindustrialisasi menjadi kunci, bukan hilirisasi. Hilirisasi tambang adalah industri padat kapital yang terbukti minim menyerap angkatan kerja.
“Kontribusi hilirisasi dalam menyediakan lapangan kerja yang berkualitas bagi kelas menengah adalah terbatas. Tanpa upaya reindustrialisasi yang serius, terutama industri padat karya, pelemahan daya beli masyarakat ini akan terus berlanjut ke depan,” tandasnya