Ketua BWI Tekankan Pentingnya Perguruan Tinggi Jadi Nadzir Wakaf Uang

Kamis, 7 November 2024 – 07:32 WIB

Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof Kamaruddin Amin (tengah) di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (6/11/2024). (Foto: Badan Wakaf Indonesia)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof Kamaruddin Amin mendorong kampus-kampus untuk menjadi nadzir wakaf. Hal tersebut disampaikan Kamaruddin saat menyampaikan pidato di acara Waqf Goes to Campus (WGTC) XIV Solo Raya di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (6/11/2024). 

Kamaruddin berharap suatu saat UNS dan kampus-kampus yang ada di sekitarnya termasuk UIN menjadi nadzir wakaf uang. Kampus-kampus diharapkan bisa mengumpulkan kebaikan-kebaikan yang ada pada mahasiswa, dosen dan masyarakat, sehingga kampus di Indonesia betul-betul berdaya.

“Jadi nanti mengajak mahasiswa, para dosen, para guru dan juga masyarakat untuk membuat sebuah platform yang kita sebut dengan dana abadi pendidikan tapi basisnya wakaf, karena dana LPDP kita belum bisa memberikan beasiswa kepada seluruh rakyat Indonesia,” ujar Kamaruddin.

Menurutnya, Indonesia butuh platform dan resources yang baru. “Mudah-mudahan dana abadi berbasis wakaf bisa menjadi salah satu solusi terhadap persoalan pendidikan yang ada di Indonesia ini,” kata Kamaruddin.

Ia mengungkapkan kontribusi wakaf yang di dunia Barat disebut sebagai endowment fund itu sangat sentral dan penting sekali. Lembaga pendidikan yang ada di Indonesia khususnya pendidikan Islam, di atas 80 persennya dibantu oleh wakaf.

Advertisement

“Ada puluhan ribu madrasah, itu di atas tanah wakaf, demikian juga pesantren, perguruan tinggi bahkan kantor pemerintah, ada 1.100 kantor urusan agama atau KUA kita yang berdiri di atas tanah wakaf, dan yang paling menarik adalah alhamdulillah masyarakat kita sekarang ini punya antusiasme yang sangat tinggi untuk wakaf ini,” tuturnya.

Kamaruddin menjelaskan, antusias masyarakat untuk berwakaf setiap tahun ada pertumbuhan sekitar 8 persen. “Jadi masyarakat Indonesia ternyata luar biasa keinginannya untuk berwakaf. Maka tren wakaf harus dirawat, dijaga dan dikapitaliasi potensinya,” tegasnya.

Dia juga mengungkapkan keinginannya untuk menjangkau lebih luas, agar siapapun yang ingin berwakaf bisa melaksanakan wakaf. Hal ini supaya wakaf tidak hanya dilakukan oleh mereka yang mampu dan memiliki aset, tapi juga oleh masyarakat yang ingin berwakaf. Untuk itu, ada wakaf uang.

“Jadi wakaf uang ini sungguh sebuah instrumen yang sangat penting, yang selama ini belum diketahui oleh masyarakat kita secara luas, potensi wakaf uang kita di Indonesia ini mencapai Rp 180 triliun setiap tahun,” jelas Kamaruddin.

Ia menyebut tantangannya adalah bagaimana menggali potensi wakaf uang dengan nilai Rp180 triliun per tahun. Untuk itu, BWI melakukan audiensi, seminar, konferensi, menulis di jurnal, bekerja sama dengan semua pihak, goes to campus, goes to pesantren, dan lain sebagainya. Semua itu dalam rangka untuk memperkenalkan dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam wakaf.

“Nah adik-adik sekalian kalau bisa mengajak anak-anak muda Indonesia menjadikan wakaf itu sebagai gaya hidup, saya kira kita akan membangun sebuah peradaban yang sangat dahsyat di Indonesia ini, jadi sekarang siapapun bisa berwakaf dengan angka yang sangat kecil, bisa Rp10 ribu, bisa Rp20 ribu,” jelasnya.

Lebih lanjut Kamaruddin mengatakan, kalau seluruh kelas menengah Indonesia bersama dengan mahasiswa juga melakukan gerakan wakaf yang sama, maka akan menghasilkan sebuah potensi yang sangat luar biasa.

Di tempat yang sama, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Hartono mengatakan, UNS memiliki komitmen untuk terus berperan aktif dalam memajukan masyarakat. Salah satunya dengan mendukung dan memperkuat pengelolaan wakaf produktif yang berdamapk luas terhadap berbagai sektor, termasuk ekonomi, sosial dan pendidikan.

“Ruang lingkup nota kesepahaman antara UNS dan perguruan tinggi di Solo Raya dengan BWI akan memungkinkan kolaborasi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi terutama dalam hal peningkatan dan pengembangan kualitas SDM,” ujar Hartono.

Hartono menyampaikan, selain penandatangan nota kesepahaman, juga diselenggarakan seminar nasional untuk menggali potensi dan menghadirkan solusi terkait wakaf produktif.

“Dalam konteks pembangunan nasional, wakaf produktif dapat berkontribusi secara signifikan terutama di era saat ini di mana kita dituntut untuk terus berinovasi dalam mencari solusi bagi tantangan di bidang sosial, ekonomi dan pendidikan,” ujar dia.

Topik

BERITA TERKAIT