Situasi AC Milan semakin suram setelah mereka kembali menelan kekalahan, kali ini dari Bologna dengan skor 1-2 dalam laga tunda pekan ke-9 Serie A di Stadio Renato Dall’Ara, Jumat (28/2) dini hari WIB.
Pelatih Sergio Conceicao tidak bisa menahan emosinya dalam sesi wawancara usai pertandingan, menyoroti kepemimpinan wasit dan meluapkan kemarahannya kepada media yang terus mempertanyakan masa depannya di Milan.
Milan Tumbang, Conceicao Salahkan Keputusan Wasit
Milan sebenarnya unggul lebih dulu melalui Rafael Leao, tetapi Bologna menyamakan kedudukan lewat Santiago Castro, yang diduga melibatkan handball dalam proses gol. Dan Ndoye kemudian memastikan kemenangan tuan rumah setelah memanfaatkan kelengahan Alex Jimenez dalam mengantisipasi lemparan ke dalam.
Conceicao menyoroti keputusan wasit yang menurutnya merugikan Milan.
“Ada handball yang sangat jelas dalam gol penyama kedudukan mereka. Kami seharusnya bisa berbuat lebih baik, tetapi semua insiden negatif sepertinya selalu melawan kami dan menjadi penentu akhir,” ujar Conceicao kepada DAZN.
Namun, pelatih asal Portugal itu juga mengakui bahwa timnya kehilangan momentum di babak kedua.
“Kami menjalani babak pertama dengan baik, tetapi di babak kedua semuanya berubah. Kami seperti berjalan di atas bara api, ini soal mentalitas. Ketika fokus kami hilang, lawan mendapatkan keuntungan besar.”
Ledakan Emosi: “Saya Bukan Pelatih Kelas Terasi!”
Ketika wawancara berlanjut, emosi Conceicao semakin memuncak. Ia geram dengan media yang terus mengkritik dirinya dan mempertanyakan masa depannya di Milan.
“Setiap hari saya mendengar orang-orang membicarakan posisi saya, seolah-olah saya baru muncul dari jalanan. Saya sudah menghadapi klub-klub besar di Italia, melawan pelatih-pelatih top seperti Sarri dan Pioli. Saya lolos dari mereka semua, kecuali Inter,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia membanggakan rekornya sebagai pelatih yang sudah memiliki banyak pengalaman di level tertinggi.
“Saya memenangkan 13 trofi, memiliki 100 pertandingan di Liga Champions, tetapi masih saja orang berbicara buruk tentang saya. Saya punya keluarga, punya tetangga yang melihat semua ini. Ini tidak adil.”
Kondisi Milan Makin Krisis
Kekalahan ini memperpanjang derita Rossoneri yang sebelumnya tersingkir dari Liga Champions oleh Feyenoord dan kini terperosok ke peringkat 8 Serie A, tertinggal 8 poin dari zona Liga Champions.
Sejak meraih Supercoppa Italiana pada Januari lalu, Milan justru mengalami penurunan performa drastis.
Dengan tekanan yang semakin besar, apakah Conceicao bisa membalikkan keadaan? Atau waktunya di Milan sudah benar-benar habis?