Negara dan Cerita


Donald Trump tak pernah berhenti membuat kejutan. Sejak resmi kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47, serangkaian kebijakan kontroversialnya terus bermunculan. Bukan sekadar menghebohkan warga AS, tetapi mengguncang dunia. Baru-baru ini ia mendeklarasikan perang dagang melalui kebijakan tarif resiprokal. Dunia bergejolak. Indonesia kena 34%, sampai-sampai Presiden Prabowo harus mengirim delegasi khusus ke Washington untuk melakukan negosiasi.

Sebenarnya apa yang dilakukan Trump bukanlah soal parade kebijakan belaka. Lebih dari itu, ia sedang membuat cerita baru tentang negaranya. Hanya dalam beberapa bulan, ia mengklaim mencetak banyak sejarah baru. Ia mengorkestrasi kelompok pro dan kontra dengan pendekatan blockbuster khas Hollywood. Sakralitas Gedung Putih ia obrak-abrik, pakem-pakem formal negara ia tabrak, aktor-aktor dengan karakter yang tajam diangkat ke permukaan—mulai dari Elon Musk sampai Pete Hegseth. Ini cerita level dunia, semua mata warga dunia harus tertuju pada Amerika Serikat-nya Trump.

Tentu saja, para ahli boleh menganalisis dan membedah setiap kebijakan yang dibuat Trump. Kebijakan itu bisa jadi baik atau buruk. Hasilnya juga belum tentu seperti yang direncanakan Trump dan kabinetnya. Tapi satu hal yang pasti: Amerika Serikat punya narasi baru. Trump membuka kemungkinan dan imajinasi baru untuk AS masa depan. Saya kira ini rencana utamanya.

Negara adalah Cerita

Negara adalah entitas yang dibangun oleh manusia. Mesin penggeraknya adalah cerita. Negara tanpa cerita adalah negara yang tak punya tujuan. Tujuan kolektif itulah yang menggerakkan aktor-aktor dan warga negara. Secara eksplisit cerita itu bisa menjadi slogan politik seperti Make America Great Again, tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana narasinya dibangun, di-install di pikiran bawah sadar publik, menggerakkan ke tujuan tertinggi yang ingin dicapai.

Narasi Politik

Sejatinya yang perlu kita pelajari dari Amerika Serikat-nya Trump hari ini bukanlah paket-paket kebijakan yang ia buat. Bukan soal efisiensi, penerapan tarif, atau politik luar negeri. Tetapi tentang bagaimana secara sadar Amerika Serikat kembali menyusun narasi baru—mencoba mengambil kembali peran utama sebagai negara paling kuat dan paling disegani di dunia. Karena rumusnya sederhana: siapa pun yang memenangkan pertarungan cerita, berhak menulis sejarah.

Trump sepertinya sadar kemajuan Tiongkok tak bisa dibendung dan Rusia mulai siuman dari tidur panjangnya. Sementara ia melihat AS tak punya arah, warganya tercerai-berai karena tak punya narasi dan tujuan kolektif yang merekatkan dan menggerakkan. Terutama di bawah Biden, narasi politik domestik maupun luar negeri AS boleh dikatakan berantakan dan cenderung reaktif. Saat pilpres AS kembali dimenangkan Trump, memang hanya dia—karakter yang paling kuat—yang bisa mengubah jalan cerita negeri Paman Sam itu. Saya kira, itu narasi politik Amerika Serikat hari ini.

Di Indonesia, kita juga harus melihat kekosongan narasi semacam ini. Politik kita hari ini miskin narasi. Harus diakui, pemerintahan kita hanya berisi paket-paket kebijakan dan data-data teknokratik yang berhamburan—tak ada ceritanya. Yang ada hanyalah percakapan-percakapan yang bising, komentar-komentar yang berhamburan, berita-berita yang kacau, tak punya arah. Apalagi jika kita bicara aktor-aktor, boleh dikatakan tokoh-tokoh politik kita hari ini tak punya narasi kolektif. Hampir semua terasa bergerak dengan agenda personal dan partisan.

Belum terlambat untuk membangun narasi kolektif Indonesia hari ini dan ke depan. Asta Cita tak boleh berakhir jadi semacam pointers, ia harus diubah menjadi cerita yang menggerakkan. Secara teknis mungkin bisa jadi slogan politik baru atau naskah grand narrative baru, tetapi yang lebih penting dari itu adalah kita butuh kesadaran di level elite bahwa tak ada yang bisa menggerakkan publik kecuali cerita. Manusia adalah makhluk cerita, homo narrans. Mereka tak akan bergerak karena serangkaian aturan atau kebijakan. Mereka akan bergerak jika ada cerita yang meyakinkan. Negara ini butuh cerita.

Medium dan Aktor

Bagi sebuah negara, Presiden adalah aktor utama. Ia adalah pusat yang menggerakkan cerita. Semua harus bermula dari sana. Ke mana kapal bangsa ini menuju, apa petanya, di mana kompasnya, bagaimana strateginya, mengapa semua elemen bangsa harus terlibat—cerita itu perlu dikomunikasikan kepada publik dengan berbagai strategi kebudayaan. Publik harus bisa teryakinkan dan buy in kepada narasi yang dicanangkan.

Sumpah Pemuda 1928 adalah contoh dari narasi level negara: tentang tumpah darah yang satu, bangsa yang satu, dan bahasa persatuan. Proklamasi 1945 adalah narasi lainnya: tentang negeri yang merdeka dan mimpi-mimpi Indonesia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Repelita-nya Soeharto, Indonesia Lepas Landas, dan Swasembada Pangan adalah narasi pembangunan. Kemudian Reformasi 1998 dengan narasi demokrasi dan hak asasi manusia. Lalu Jokowi dengan Revolusi Mental, Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, dan Indonesia Emas 2045. Pertanyaannya: apa narasi Indonesia hari ini?

Kita perlu merumuskan cerita baru tentang Indonesia. Narasi yang akan merangkum, merangkai, menyatukan, dan menggerakkan orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Cerita itu perlu ditulis, dipidatokan, dibukukan, dipublikasikan, bahkan difilmkan. Hanya negara yang punya cerita yang akan punya energi dan pengaruh di level dunia, bukan negara yang hanya menjalankan tata pemerintahan dan formalitas diplomatik belaka. Karena pada akhirnya politik-pemerintahan, ekonomi-perdagangan, hukum-tata negara, atau apapun saja, tanpa narasi hanya akan berakhir menjadi business as usual.

Trump tak pernah secara detail menjelaskan program-program yang dibuatnya—itu tugas para pembantunya. Ia hanya bercerita di level abstrak, di level nilai-nilai: bahwa Amerika Serikat akan begini dan akan begitu, siapa kawan dan siapa lawan, akan seperti apa negara itu di tengah percaturan dunia hari ini dan ke depan.

Peran seorang pemimpin memang semacam itu—tidak terjebak pada detail-detail. Rasanya ini mengingatkan kita kepada Presiden Soekarno. Ia tampil di podium, berorasi, kadang terkesan “omong besar”, menunjukkan perannya sebagai pemimpin besar, menanam keyakinan di benak publik. Semua itu masih kita ingat sampai hari ini. Ceritanya mengguncang dunia. Dari sana nasionalisme tumbuh, membentuk Indonesia yang kita banggakan hari ini.