P2G Sebut 466 Guru Honorer tak Punya Jam Mengajar


Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri mengatakan pihaknya menemukan sebanyak 466 guru honorer tidak memiliki jam mengajar.

Hal ini turut merespons pemecatan sepihak 107 guru honorer yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta.

“Kami kumpulkan ada sekitar 466 kasus guru honorer di sekolah yang jamnya tergeser, tidak punya jam mengajar,” kata Imin di Jakarta dikutip Kamis (18/7/2024).

Iman mengatakan bagi guru honorer jam mengajar itu adalah nyawa. Pasalnya, tidak alasan mereka berada di sekolah jika tidak memiliki jam mengajar.

“Hal ini kami sampaikan saat RDPU dengan komisi 10 pada tanggal 4 Juli,” ujar Iman.

Di sisi lain, Iman membeberkan bahwa di Lampung sama sekali tidak dibuka seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sehingga guru honorer tidak bisa naik pangkat hingga Desember 2024.

“Secara tidak langsung karir para guru honorer itu distop, diusir dari sekolah. Di sisi lain mereka juga tidak diberikan kesempatan untuk berkompetisi, untuk ikut seleksi PPPK,” ucapnya.

Sebelumnya, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) terus mengawasi kondisi guru honorer yang semakin memprihatinkan sejak awal tahun ajaran baru 2024/2025. Kebijakan yang disebut ‘Cleansing Guru Honorer’ di beberapa daerah di Indonesia, terutama di DKI Jakarta, telah memicu kekhawatiran serius dari berbagai pihak.

Menurut Iman Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi Guru di P2G, kebijakan ini telah menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian besar bagi ribuan guru honorer, yang banyak di antaranya telah mengabdi selama bertahun-tahun.

“Pada minggu pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru, para guru honorer di DKI Jakarta mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan bahwa hari pertama mereka adalah hari terakhir mereka bekerja di sekolah tersebut,” jelas Iman dalam keterangannya, Senin (15/7/2024).