Inersia

Pele Jalani Perawatan Paliatif Melawan Kanker, Bagaimana Metodenya?

Legenda sepak bola dunia asal Brasil Pele tengah berjuang melawan kanker usus besar. Ia kini menerima perawatan paliatif setelah berhenti melakukan kemoterapi. Bagaimana sebenarnya metode perawatan paliatif ini?

Mungkin anda suka

Surat kabar Folha de S Paulo, melaporkan Sabtu (3/12/2022), Pele, 82 tahun, yang dianggap sebagai salah satu pesepakbola terhebat sepanjang masa, dirawat di rumah sakit untuk mengevaluasi kembali pengobatan kankernya dan kemudian didiagnosis menderita infeksi pernapasan, menurut laporan medis.

Manajernya dan Rumah Sakit Albert Einstein, di Sao Paulo, tidak segera menanggapi permintaan komentar. Namun sebuah laporan medis yang dirilis pada Jumat (2/12/2022), mengatakan Pele memiliki respons yang memadai terhadap pengobatan antibiotik dan berada dalam kondisi stabil dengan peningkatan umum dalam status kesehatannya.

Dia menjalani pengangkatan tumor dari usus besarnya pada September 2021 dan telah menerima perawatan rumah sakit secara teratur. Folha de S Paulo melaporkan bahwa kemoterapi telah ditangguhkan dan Pele berada di bawah perawatan paliatif, serta dirawat hanya untuk gejala seperti nyeri dan sesak napas.

Surat kabar itu juga mengatakan dia mengalami pembengkakan umum dan masalah jantung saat dirawat di rumah sakit awal pekan ini, seperti yang sebelumnya dilaporkan oleh ESPN Brasil. Pele mengatakan dalam sebuah posting Instagram bahwa dia berada di rumah sakit untuk ‘kunjungan bulanan’ dan berterima kasih kepada para pendukungnya atas pesan positif yang dia terima.

Mantan striker Brasil, Santos dan New York Cosmos itu memposting foto wajahnya yang diproyeksikan di sebuah gedung di Qatar, tempat Piala Dunia diadakan, di samping pesan yang bertuliskan ‘Cepat Sembuh’. Tanda dengan pesan yang sama ditampilkan oleh fans Brasil di Stadion Lusail pada hari Jumat jelang kekalahan 0-1 tim nasionalnya melawan Kamerun.

Mengenal perawatan paliatif

Pengobatan untuk penyakit kanker sangat beragam dari kemoterapi, radioterapi, operasi hingga perawatan paliatif. Metode penyembuhan tergantung dari stadium kanker, ukuran tumor, usia pasien, dan kesehatan tubuh pasien secara menyeluruh.

Apa pengobatan paliatif itu? Perawatan paliatif menurut World Health Organization (WHO) adalah pendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah kesehatan yang mengancam jiwa, melalui pencegahan dan tindakan untuk mengurangi nyeri, masalah fisik, sosial, dan spiritual yang dihadapi pasien selama pengobatan.

Tidak hanya kanker, orang-orang dengan penyakit kronis lain, seperti penyakit Alzheimer, diabetes, HIV/AIDS, dan masalah pada sistem saraf yang tidak bisa disembuhkan juga bisa mengikuti pengobatan ini. Mengutip Mayo Clinic, termasuk juga untuk pasien gangguan darah dan sumsum tulang yang membutuhkan transplantasi sel punca, penyakit jantung, cystic fibrosis, demensia, penyakit liver stadium akhir, gagal ginjal, penyakit paru-paru, Parkinson dan stroke.

Umumnya, pengobatan ini dilakukan oleh seorang spesialis pengobatan paliatif atau praktisi kesehatan yang telah menerima pelatihan khusus. Akan tetapi, dokter spesialis penyakit, perawat, ahli gizi, apoteker, terapis, psikolog, penasihat spiritual, dan psikolog juga ikut terlibat.

Di Indonesia sendiri telah ada ketentuan dari Kementerian Kesehatan yang menyatakan bahwa harus ada penerapan pengobatan paliatif untuk beberapa jenis penyakit serius. Namun, sampai saat ini memang pelaksanaannya masih terhambat oleh berbagai hal sehingga perawatannya belum maksimal.

Target pasien yang bisa mendapat layanan paliatif di antaranya pasien stadium awal atau stadium lanjut serta pasien yang kondisinya drop. Termasuk juga pasien yang tidak memiliki keluarga yang bisa mendukung, dan pasien yang kondisinya bedrest atau tidak mampu berdiri sendiri.

Ketika melakukan perawatan paliatif, pasien akan mendapatkan konsultasi, penanggulangan nyeri, penanggulangan penyakit lain atau penyerta penyakit primer. Ada pula layanan bimbingan psikologis, sosial, & spiritual, hingga kedukaan (berkabung). Juga ada persiapan kemampuan keluarga untuk perawatan pasien di rumah, kunjungan rumah berkala sesuai kebutuhan pasien dan bimbingan perawatan untuk pasien dan keluarga.

Biasanya juga diberikan layanan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan luka gastronomi, colostomy, selang makanan, kateter dan lain-lain. Kadang pihak rumah sakit atau penyedia layanan membantu menyediakan tenaga perawat, dan pelaku rawat (caregiver).

Apakah perawatan paliatif sama dengan perawatan yang dilakukan setelah penanganan medis tidak sanggup lagi dan mendekati kematian? Tidak, perawatan paliatif mengacu pada menghilangkan gejala dari kondisi medis yang tidak dapat disembuhkan.

Fokusnya adalah mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. “Tidak seperti hospice yang sering diasosiasikan orang dengan perawatan akhir hayat, perawatan paliatif dapat bermanfaat bagi orang-orang dari segala usia dan pada setiap tahap penyakit serius,” mengutip my.clevelandclinic.org.

Perawatan paliatif di Indonesia

Jika Anda atau keluarga ingin mengikuti perawatan suportif untuk kanker atau penyakit kronis lainnya, coba lakukan konsultasi pada dokter yang menangani kondisi Anda, komunitas kanker, atau berselancar di internet untuk memperoleh informasi dalam memilih tempat perawatan paliatif.

Berdasarkan Keputusan Kementrian Kesehatan tahun 2007 tentang perawatan paliatif, tempat untuk melakukan perawatan paliatif adalah rumah sakit untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan yang memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus, atau peralatan khusus. Tempat lainnya adalah Puskesmas untuk pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan.

Perawatan paliatif juga bisa dilakukan di rumah singgah/panti untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus, maupun peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga kesehatan.

Perawatan sebenarnya juga bisa dilakukan di rumah pasien. Terutama untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus, maupun peralatan khusus atau keterampilan perawatan yang tidak mungkin dilakukan oleh keluarga.

Hingga saat ini rumah sakit dan Puskesmas yang menyediakan perawatan paliatif di Indonesia masih terbatas karena jumlah dokter yang mampu memberikan pelayanan perawatan ini pun juga terbatas.

Berdasarkan laporan dalam jurnal Biopsychosocial Medicine, mengutip Hellosehat, beberapa rumah sakit di Jakarta telah bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk menyelenggarakan program pelatihan tiga tahun untuk dokter, perawat, atau apoteker guna mendalami pengetahuan dan keterampilan mengenai perawatan paliatif.

Memang belum banyak yang mengenal perawatan paliatif tapi secara tidak sadar perawatan ini mungkin sudah dilakukan oleh masyarakat. Paliatif berasal dari kata palliate yang berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, sehingga dapat dikatakan bahwa upaya paliatif merupakan suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan.

Perawatan ini penting karena pada dasarnya tidak ada seorang pasien yang diizinkan menderita. Perawatan paliatif dapat mempertahankan kualitas hidup pasien, bahkan mungkin bisa memperpanjang usianya.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button