Peneliti Ingatkan Rencana Dialog Prabowo dengan Investor Percuma Jika Tanpa Perbaikan Regulasi


Muhammad Anwar, Peneliti dari Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), menilai rencana Presiden RI Prabowo Subianto bertemu dengan para investor setelah libur panjang Idul Fitri adalah upaya strategis dalam meredakan ketidakpastian dan membangun kembali kepercayaan dunia usaha terhadap kebijakan ekonomi Indonesia.

Akan tetapi, efektivitas dari pertemuan ini bergantung pada substansi pembicaraan dan tindak lanjut konkret yang dilakukan setelahnya.

Dalam wawancara dengan inilah.com pada Minggu (30/3/2025), Anwar mengatakan investor umumnya membutuhkan kepastian hukum, stabilitas politik, dan kebijakan ekonomi yang konsisten agar mereka merasa nyaman menanamkan modalnya dalam jangka panjang. Jika selama ini ada kesalahpahaman yang membuat mereka enggan atau menahan investasi, maka dialog yang dibangun Prabowo bisa menjadi langkah awal untuk memperjelas posisi pemerintah serta menunjukkan komitmen untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

“Namun jika (rencana pertemuan Prabowo dengan investor) hanya sebatas pertemuan tanpa disertai perbaikan regulasi dan kebijakan yang pro-pasar sekaligus pro-rakyat, maka skeptisisme investor tidak akan mudah sirna,” kata Anwar.

Sebelumnya, Presiden Prabowo dikabarkan akan bertemu dengan sejumlah investor dan pihak terkait lainnya setelah libur panjang Idul Fitri. Pertemuan itu ditujukan untuk mengkoreksi kesalahpahaman soal kebijakan-kebijakan negara setelah investor dan pemain ekonomi lainnya khawatir karena merosotnya ekonomi negara.

Dikutip dari Reuters, sebuah sumber di Kementerian Perekonomian mengatakan pada Kamis (27/3/2025) rencana pertemuan tersebut diambil buntut dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (18/3/2025) yang menembus 5 persen dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) yang terus melemah.

Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pada Selasa pagi (25/3/2025) rupiah melemah sebanyak 0.54 persen atau menjadi Rp16.640 per dolar AS (Amerika Serikat). Berdasarkan data LSEG, rupiah mengalami titik terendah pada 1998 saat menyentuh angka Rp16.800 per dolar AS selama krisis keuangan di Asia.

Rentetan kondisi ini telah menimbulkan keresahan investor terkait dengan kebijakan Indonesia, juga kekhawatiran terhadap posisi fiskal negara dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia