Potensi Suap dan Korupsi di Lapas Sukamiskin Tinggi

Terungkapnya pelesiran tahanan korupsi Lapas Klas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Mardani H Maming dari Banjarmasin  ke Surabaya membuktikan bahwa potensi suap dan gratifikasi di Lapas Sukamiskin, masih tinggi.

Meski KPK pernah menangkat tangan Kepala Lapas Sukamiskin karena menerima suap dari napi koruptor.

“Sukamiskin ini kan tempat memasyarakatkan terpidana korupsi. Sayangnya, risiko terjadi korupsi atau suap di Lapas Sukamiskin itu, malah tinggi. Sehingga sangat mungkin untuk para koruptor mengulangi kejahatanya dengan menyuap, memberikan gratifikasi dan seterusnya,” kata Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (PUKAT) UGM, Zaenur Rohman saat dihubungi Inilah.com, Jakarta, Rabu (21/2/2024).

Menurut Zaenur, untuk mencegah praktik korupsi dan suap di Lapas, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kemenkumham, harus melakukan evaluasi. Setiap lapas yang kebobolan harus ada yang bertanggung jawab.

“Dirjenpas (Reynhard SP Silitonga) wajib melakukan evaluasi demi nama baik Menkumham (Yasonna Laoly) . Kalau memang ada pelanggaran SOP, misalnya, ya harus dikenai sanksi. Harus ada yang bertanggung jawab. Siapapun yang melanggar, apakah itu petugas lapas yang mengawal, bahkan Kalapasnya,” kata Zaenur.

Sorotan kepada Lapas Sukamiskin ini, bermula dari informasi yang dihimpun Inilah.com, Senin (19/2/2024) malam. Dari rekaman CCTV, mantan Bendahara PBNU dan Ketum HIPMI itu, terlihat berada di Bandara  Bandara Internasional Syamsudin Noor-Banjarmasin (BDJ).

Dia memang sudah mendapat izin untuk menghadiri sidang Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Tipikor, Banjarmasin. Karena ketua majelis hakimnya, Suwandi tak hadir maka sidang yang mengagendakan pembacaan memoar PK itu, ditunda.

Mardani yang mengenakan jaket dan celana panjang hitam dan topi, melenggang santai di bandara. Dia juga menggunakan masker berwarna putih. Ditemani seseorang yang mengenakan kaos hitam, tangan Mardani sempat membawa maskernya. Tampak jelas tidak borgol di tangannya.

Anehnya, Mardani bukannya kembali ke Bandung, lanjut ke Sukamiskin, namun justru menaiki pesawat Citilink dengan tujuan Surabaya (SGK). Dengan nomor penerbangan QG 495 BDJ-SUB.

Berdasarkan tiket pesawat Citilink yang beredar, selain nama Mardani H Maming, dalam tiket juga tertulis dua penumpang lainnya atas nama Firman Hermansah dan Rahmat Saputro.

Sampai di Surabaya, Mardani dijemput mobil Alphard dengan pelat nomor DA 66 RR. Diduga, dia akan menemui kerabatnya.

Mengingatkan saja, Mardani divonis 10 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Banjarmasin,  pada Jumat (10/2/2023). Dia terbukti menerima suap Rp118 miliar dari pengurusan IUP batu bara, saat menjabat Bupati Tanah Bumbu.

Atas vonis itu, Mardani tak terima dan mengajukan banding. Namun, Pengadilan Tinggi Banjarmasin justru menambah bui untuk Mardani menjadi 12 tahun. Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) menghukum Mardani mengembalikan duit Rp110 miliar ke negara.

Dari kejadian ini, tidak tertutup kemungkinan adanya praktik suap di baliknya. Betul kata  Zaenur, pihak Ditjenpas Kemenkumham harus menindaklanjuti kejadian ini. Apalagi, KPK pernah membongkar adanya praktik suap di Lapas Sukamiskin pada 2018.

Kala itu, KPK menetapkan lima tersangka. Termasuk dua mantan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husein (WH) dan Deddy Handoko (DHA). Tiga lainnya, napi koruptor Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan (TCW), eks Bupati Bangkalan yang juga napi korupsi Fuad Amin (FA) dan Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi, Rahadian Azhar (RAZ).

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas 1 Sukamiskin, Wachid Wibowo menyatakan ‘pelesiran’ Mardani H Maming ini, dalam rangka sidang PK di PN Banjarmasin. Hanya saja, Wachid menegaskan bahwa pengawalan untuk Mardani teramat sangat ketat, melibatkan petugas lapas dan kepolisian.

“Pak Mardani diberangkatkan ke Banjarmasin dengan pengawalan ketat. Karena tak dapat pesawat langsung ke Banjarmasin,” ujar kata Wachid dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/2/2024).

Sedangkan, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin, Eris Ramdani, mengakui adanya dua petugas yang masuk dalam manifes penerbangan bersama Mardani. 

Sumber: Inilah.com