Seorang remaja pria Palestina dari Tepi Barat yang diduduki meninggal di penjara Israel karena kelaparan dan komplikasi terkait kesehatan lainnya. Penyebab kematiannya terungkap berdasarkan hasil otopsi.
Walid Ahmad, berusia 17, meninggal dunia pada 22 Maret akibat dehidrasi, diare karena radang usus besar, serta infeksi gara-gara kekurangan gizi dan tidak mendapatkan pengobatan yang dapat menyelamatkan nyawanya saat dipenjara di Megiddo, yang terkenal terletak di Israel utara.
Laporan otopsi yang diterbitkan Lembaga Forensik Abu Kabir di Tel Aviv pada 27 Maret, mengatakan bahwa Walid menderita malnutrisi parah dan mungkin berkepanjangan. Ia juga mengalami radang usus besar, yang menyebabkan diare dan dehidrasi parah. Laporan itu juga menemukan bahwa remaja itu mengalami luka di lehernya.
Menurut Defence for Children International – Palestine (DCIP), remaja tersebut meninggal pada 23 Maret setelah pingsan di halaman penjara. Ia ditahan di sana setidaknya selama enam bulan sebelum kematiannya. Ia ditahan pada bulan September karena diduga melemparkan batu ke arah tentara.
Ayed Abu Eqtaish, Direktur DCIP, mengatakan bahwa Walid sengaja dibiarkan kelaparan di tahanan Israel. “Otopsi Walid menunjukkan bahwa penjaga penjara Israel secara sistematis membuatnya kelaparan dan menyiksanya selama berbulan-bulan hingga akhirnya ia pingsan, kepalanya terbentur, dan meninggal,” katanya.
Walid diperiksa kesehatannya antara Desember 2024 hingga Februari 2025, setelah menderita kudis. Ia diperiksa lagi setelah menderita kekurangan gizi, tetapi hal itu tidak mencegah kematiannya.
Orang tuanya mengatakan remaja itu menderita disentri amuba akibat kondisi buruk di penjara, infeksi yang menyebabkan diare, muntah-muntah, dan pusing serta dapat berakibat fatal jika tidak diobati.
Ratusan tahanan Palestina telah mengalami penganiayaan, pengabaian medis, dan kekurangan gizi di penjara-penjara Israel. Penjaga penjara Israel juga secara sistematis memukulinya, tidak memberi makanan, dan melakukan kekerasan seksual terhadap mereka, terutama setelah perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023.
“Kelaparan adalah alat genosida, yang bertujuan untuk melemahkan dan akhirnya menghancurkan baik fisik maupun mental anak-anak Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel,” kata Abu Eqtaish.
“Kematian Walid bukanlah suatu kecelakaan—itu adalah suatu kejahatan dan masyarakat internasional harus segera campur tangan untuk menerapkan sanksi terhadap pemerintah Israel guna memaksa pertanggungjawaban,” tambahnya.