Bisnis

Rupiah Bakal Berotot Lagi di Bawah Level Psikologis 15 Ribu Akhir 2022

Pelemahan tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini ditengarai bersifat sementara dan tidak mencerminkan kondisi fundamentalnya. Hingga akhir 2022, mata uang garuda berpeluang kembali berotot di bawah level psikologis 15.000.

“Dengan mempertimbangkan faktor fundamentalnya, rupiah berpotensi untuk menguat kembali di bawah level 15.000 per dolar pada akhir tahun 2022 ini,” kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata kepada Inilah.com di Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Mungkin anda suka

Nilai tukar rupiah pagi tadi menguat 35 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp15.232 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya Rp15.267 per dolar AS.

Menurut Josua, tren penguatan dolar AS terhadap mata uang global terus berlanjut. “Hal ini mendorong pelemahan seluruh mata uang Asia termasuk rupiah,” ujarnya.

Hingga penutupan perdagangan 28 September 2022, nilai tukar rupiah tercatat melemah 1,5% ke level 15.263 per dolar. Posisi ini jika dibandingkan dengan akhir pekan lalu. Angka itu juga melemah 1,5% jika dibandingkan akhir bulan lalu.

Penguatan dolar AS, sambung Josua, dipengaruhi oleh pernyataan dari pejabat Bank Sentral AS The Fed yang mengonfirmasi berlanjutnya kenaikan suku bunga Fed. “Ini masih akan berlanjut dalam rangka meredam tekanan inflasi yang tinggi,” tuturnya.

Kenaikan suku bunga Fed diperkirakan akan berada di level 4,5% hingga akhir 2022. Proyeksi ini didasarkan pada kondisi inflasi yang belum turun signifikan. “Ini bahkan setelah Fed sudah menaikkan sekitar 2,25% selama Mar-Agustus 2022 yang dilanjutkan dengan kenaikan sebesar 75 basis poin (bps) pada bulan September ini,” papar dia.

Pernyataan hawkish alias promoenter ketat dari Fed tersebut, kata dia, telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS alias yield US Treasury yang sempat menembus level 4%. “Ini untuk pertama kalinya sejak tahun 2010,” ucapnya.

Kenaikan imbal hasil US Treasury itu, lanjut dia, disertai dengan pelemahan mata uang utama seperti Sterling dan Yen dan selanjutnya mendukung berlanjutnya penguatan dolar AS.

“Namun, di tengah penguatan dolar AS terhadap mata uang global tersebut, tingkat depresiasi rupiah terhadap dolar AS cenderung lebih rendah dibandingkan mata uang lain,” ungkap Josua.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah 6,6% sejak awal tahun alias year to date (ytd). Ini cenderung tingkat pelemahannya lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya. Lihat saja, Rupee India yang melemah 9,3% (ytd), Ringgit Malaysia 10% (ytd), Peso Filipina 13,6% (ytd), dan Bath Thailand (13% (ytd).

Lebih jauh ia menjelaskan, mempertimbangkan kondisi yang terjadi adalah sentimen penguatan dolar AS terhadap mata uang global termasuk rupiah. “Maka, ini diperkirakan sifatnya sementara dan belum menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia,” papar dia.

Hal tersebut, terindikasi dari Real Effective Exchange Rate dari Rupiah yang masih cenderung undervalued.

Apalagi, invetor global akan tetap mencermati perkembangan data ekonomi AS, terutama inflasi negeri Paman Sam. Ini berpotensi dapat mengurangi sentimen negatif di pasar keuangan global apabila inflasi AS cenderung melandai. “Sekalipun, The Fed akan tetap konsisten untuk melanjutkan kenaikan suku bunganya,” timpal Josua.

Di tengah sentimen negatif di pasar keuangan global tersebut, Bank Indonesia tetap berada di pasar. “Tujuannya, untuk tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi rupiah melalui triple intervention serta operation twist yang juga turut menjaga daya tarik investasi di pasar SBN (Surat Berharga Negara) domestik,” ujarnya.

Belum lagi, dengan ekspektasi neraca transaksi berjalan yang masih berpotensi kembali surplus pada kuartal III-2022. Sebab, itu ditopang oleh kinerja ekspor yang cukup solid terutama ekspor batubara.

“Semua itu, diharapkan akan mendorong posisi transaksi berjalan dalam keadaan yang sehat sehingga akan mendukung terjaganya keseimbangan supply dan demand valas di dalam negeri,” ucapnya.

Bank Indonesia juga, menurut dia, berpotensi untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya dengan dua tujuan. “Di satu sisi untuk menjangkar inflasi yang cenderung meningkat sekaligus di lain sisi atau saat bersamaan untuk mendorong stabilitas nilai tukar rupiah,” imbuhnya.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button