Bisnis

Rupiah Kedodoran Bisa Makin Melemah, Butuh Stimulus?

Mata uang rupiah terus bergerak melemah bahkan diramalkan bisa menyentuh ke level Rp15.500 per dolar AS. Keperkasaannya digerogoti banyak persoalan global. Rupiah butuh stimulus agar kembali bangkit.

Saat ini nilai mata uang Indonesia, rupiah telah tembus di angka Rp15.200 per dolar AS. Pada perdagangan Kamis (29/9/2022), berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat 4 poin atau 0,03 persen sehingga parkir di posisi Rp15.262,50 per dolar AS. Sejauh yang pernah terjadi di Indonesia mengenai dampak kenaikan nilai mata uang rupiah dan dolar AS, angka di atas Rp15.200 ini merupakan level terendah sejak 2020 lalu.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo sebelumnya mengatakan, nilai tukar rupiah di atas Rp15.100 per dolar AS disebabkan oleh penguatan mata uang dolar AS sekitar 15 persen. Meski begitu, tingkat depresiasi rupiah yang sebesar 5,2 persen secara year to date masih lebih rendah di banding negara lain di tingkat regional.

“Itu semua karena penguatan di dolar AS-nya, semua menghantam ke negara lain termasuk Indonesia,” ujarnya Selasa (27/9/2022). Dia menambahkan, BI tentu akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan telah menyiapkan beberapa strategi untuk melaksanakannya. Sebab, memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah merupakan bagian untuk mengendalikan inflasi.

Strategi stabilisasi rupiah ini dilakukan dengan triple intervention yaitu mengintervensi pasar valuta asing (valas) baik melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian maupun penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI juga memiliki strategi operation twist dengan melanjutkan penjualan atau pembelian SBN di pasar sekunder untuk meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN bagi masuknya investasi portofolio asing melalui kenaikan yield SBN tenor jangka pendek dan kenaikan struktur yield SBN jangka panjang yang lebih rendah.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penguatan dolar AS telah memukul nilai tukar seluruh mata uang di dunia, termasuk Indonesia. Penguatan dolar AS itu tak lepas dari kebijakan Bank Sentral AS yang menaikkan suku bunga acuannya.

“Indeks dolar mengalami penguatan hingga 110. Kalau dolar menguat berarti lawan mata uang lainnya, terutama emerging market, mengalami depresiasi. Semakin kuat dolar berarti lawannya semakin melemah,” ujar Sri Mulyani.

Ia menjelaskan, tekanan pasar keuangan global yang sempat mereda kembali mengalami gejolak, terutama sepanjang September 2022. Kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed yang masih tetap hawkish.

Pelemahan Masih akan Berlanjut

Pelemahan rupiah terhadap rupiah ini bakal berlanjut. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memprediksikan bahwa pelemahan rupiah akan terus berlanjut. Bahkan ia memperkirakan rupiah ke depan masih berpotensi melemah hingga ke level Rp15.500 per dolar AS.

“Nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah ke depan, dipengaruhi oleh sentimen pengetatan moneter yang lebih agresif di negara maju. Level pelemahan rupiah saat ini merupakan yang terdalam sejak April 2020,” katanya.

Sementara Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata uang dolar naik ke puncak tertinggi baru dalam dua dekade ini pada Rabu (28/9/2022) karena kenaikan suku bunga global yang memicu kekhawatiran resesi. Sementara itu, poundsterling mendekam di dekat posisi terendah sepanjang masa di tengah kekhawatiran atas pemotongan pajak radikal di Inggris.

“Kenaikan dolar tanpa henti terjadi karena benchmark imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik menjadi 4 persen untuk pertama kalinya sejak 2010, mencapai 4,004 persen. Imbal hasil dua tahun mencapai 4,2891 persen,” kata Ibrahim dalam risetnya, Rabu (28/9/2022).

Sebagaimana diketahui, The Federal Reserve mengambil langkah yang lebih agresif menghadapi inflasi dengan memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Bank Indonesia pada pekan lalu juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen. Keputusan tersebut selain sebagai langkah pengendalian inflasi, juga sebagai langkah memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Sedangkan dana asing terus keluar dari dalam negeri (outflow) sepanjang tahun 2022. Bank Indonesia (BI) mencatat hingga 22 September 2022 dana asing yang kabur mencapai Rp148,11 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Sementara pada rentang waktu 19-22 September, dana asing yang kabur sebanyak Rp3,80 triliun di pasar SBN.

Dua Sisi Mata Uang

Melemahnya mata uang rupiah memiliki dua sisi ibarat mata uang. Di satu sisi akan memberikan keuntungan bagi para eksportir. Di sisi lain akan berdampak buruk bagi banyak hal. Pelemahan nilai tukar rupiah akan membuat harga barang-barang impor, seperti pangan, gula, daging sapi, gandum, dan kedelai, akan mengalami kenaikan harga lebih tinggi.

Kenaikan harga barang-barang impor akibat pelemahan rupiah ini akan berdampak pada meningkatnya anggaran yang harus dikeluarkan untuk biaya bahan baku. Biaya impor bahan baku ini akan mendorong biaya produksi lebih tinggi terutama akan sangat dirasakan pada industri pengolahan.

Pelemahan nilai tukar rupiah akan mendorong imported inflation yang lebih tinggi atau akan mendorong tekanan inflasi yang lebih besar di dalam negeri. Pelemahan rupiah yang semakin dalam juga akan mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan. Akibatnya kenaikan suku bunga acuan yang terlalu tinggi ini akan menghambat penyaluran kredit perbankan. Konsumsi masyarakat pun menjadi tertekan.

Masyarakat akan mengurangi belanja akibat kenaikan suku bunga pinjaman, misalnya belanja untuk properti melalui kredit pemilikan rumah (KPR) atau kendaraan bermotor, akhirnya menjadi ditunda. Dari sisi produksi, biaya bahan baku juga akan meningkat signifikan, terutama pada sektor industri pengolahan untuk bahan baku yang diperoleh dari impor.

Sudah seharusnya pemerintah terus melakukan intervensi dengan mensubsidi barang-barang konsumsi, Bansos dan Bantuan Langsung Tunai (BLT), walaupun secara ekonomis belum bisa membantu secara signifikan. Pasar juga menunggu penjelasan dari Presiden Joko Widodo beserta tim ekonominya termasuk stimulus yang akan dilakukan untuk menenangkan pasar sehingga pelemahan rupiah bisa dikendalikan.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button