Selembar Harapan Menjelang Lebaran di Antara Bingkai Kaligrafi Maqbulin


Ramai dan padatnya arus lalu lintas di sepanjang jalan KH Abdullah Syafei, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan tidak mematahkan semangat Maqbulin (60) untuk terus menawarkan dagangannya. Yang ada di benaknya saat itu adalah bisa meraup uang banyak dari berjualan untuk bekal pulang ke kampung halamannya di Rangkasbitung, Banten menjelang lebaran tiba.

Ia terus berjalan sambil menawarkan barang jualannya kepada warga sekitar yang sedang menunggu gerimis reda. Langkah kakinya terlihat timpang mengingat berat dan repotnya ia menggotong dua tas berisi hiasan dinding kaligrafi di bahunya. 

Sayangnya, selang 30 menit berlangsung hanya satu pembeli yang melirik dagangannya. Meski demikian Maqbulin terlihat tersenyum ketika pembeli membayar hiasan dinding yang ia bawa.

“Saya mau ngelamar kerja tapi sudah nggak bisa karena sudah tua. Jadi dagang hiasan kaligrafi seperti ini, mudah-mudahan ada rezeki buat lebaran nanti, buat keluarga sama anak cucu,” kata Maqbulin, Sabtu (22/3/2025).

Ada dua jenis hiasan yang dibawa Maqbulin. Yang pertama dua bingkai hiasan kaligrafi berlafadz Allah dan Muhammad dengan harga Rp50.000. Sementara satunya lagi, bertuliskan ayat kursi dengan bingkai persegi panjang yang dihargai Rp75.000. 

Hari itu, Ia baru laku tiga hiasan. Maqbulin harus menyetor hasil penjualannya itu ke saudaranya di Depok. Ia juga mengaku keuntungan dari berdagang kaligrafi ini tidak menentu tergantung berapa upah yang akan diberikan pemilik barang dagangannya.

“Ya kalau habis besok dilanjut lagi, tapi keuntungannya tidak menentu paling kecil Rp50.000. Tadi saya naik angkot keliling dari Priuk, Blok M, Karet masih sedikit lakunya, bingung buat nanti lebaran bagaimana,” ujarnya sambil mengelap dagangannya yang sedikit kecipratan air hujan.

Maqbulin berharap di momen bulan suci ini ia bisa dapat untung besar dari jualannya. Mengingat, bulan Ramadan merupakan bulan penuh rahmat, Maqbulin percaya diri dagangannya akan laku. 

Dari 50 barang yang ia bawa hari itu hanya empat yang diincar pembeli saat sudah memasuki malam hari. “Harusnya sih masih banyak yang minat ya, karena kan buat hiasan pas gitu momennya lebaran, ada pajangan di ruang tamu atau ruang keluarga. Cuma ya, ini aja baru segini, harapan saya sih hari ini bisa dapat upah Rp100 ribu,” cerita Maqbulin.

Ia memilih ngontrak selama satu bulan pada Ramadan kali di dekat saudaranya untuk berdagang. Ia berharap dengan berjualan hiasan kaligrafi, bisa mendapatkan keuntungan besar untuk dibawa pulang. “Saya tak berani pulang, menemui sang istri dan anak jika belum mendapatkan penghasilan yang cukup,” tambahnya.

Semangat Maqbulin patut diapresiasi, Ia tak mudah menyerah demi menyenangkan sanak keluarga untuk berkumpul di hari raya Idul Fitri nanti. “Semoga seminggu lagi ini ada tanda-tanda lah buat saya, dagangan laku, bisa beliin mukena buat istri sama baju buat anak, biar pada senang di lebaran kali ini,” tutup Maqbulin.