Bisnis

Serapan Gabah Bulog Tidak Maksimal, Serikat Petani Tolak Impor Beras

8 Desember 2022 Standard

Serikat Petani Indonesia (SPI) menolak keras rencana impor beras Perum Bulog sebanyak 200 ribu ton. Akibatnya, gabah petani di lapangan tidak terserap Perum Bulog. Akhirnya, petani memang rugi.

“Ya jelas kita tolak rencana tersebut (impor beras). Ujung-ujungnya petani merugi. Kepala Bapanas boleh-boleh saja menjamin impor berasnya sedikit, tidak merugikan kami. Lha, ini bagaimana pula. Gabah atau beras petani di lapangan, siapa yang beli? Artinya, pemerintah atau Perum Bulog tidak serap gabah petani,” ungkap Henry Saragih, Ketua Umum SPI saat dihubungi Inilah.com, Jakarta, Kamis (8/12/2022).

Dia menjelaskan, UU no 18 Tahun 2012 tentang Pangan, menyebutkan bahwa dilarang impor pangan sepanjang produksi pangan masih bisa disiapkan di dalam negeri. “Produksi pangan kita mencukupi kok, kenapa harus impor. Melanggar undang-undang itu. Coba pelajari lagi data BPS,” tandas Henry.

Henry mengaku lebih memercayai validitas data Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyebut produksi beras nasional mencukupi hingga akhir 2022.

“Jadi ya tidak bisa impor beras. Masalahnya sekarang, menurut Bulog, cadangan beras di Bulog tidak memenuhi jumlah yang jadi patokan pemerintah, yakni sebanyak 1,2 juta ton. Ini jelas kesalahan. Nah, Bulog seharusnya andalkan beras yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kan cukup banyak beras yang disimpan di daerah. jadi, bukan langsung impor begini,” kata Henry.

Keputusan impor beras ini, menurut Henry, menimbulkan pertanyaan besar bagi publik. Khusnya menyangkut serapan gabah petani yang menjadi tugas Perum Bulog. Saat masa panen raya pada Februari hingga Juni 2022, seberapa besar serapan Bulog. Sehingga melahirkan keputusan impor beras di akhir tahun.

“Kenapa keputusannya baru sekarang? Kemarin-kemarin ngapain saja? apakah serapan gabah petani oleh Perum Bulog sudah maksimal. Itu yang harus dijawab,” ungkapnya.

Bisa jadi Henry benar soal rendahnya serapan gabah petani oleh Perum Bulog. Sepanjang 2022, serapan gabah oleh Bulog, rendah sekali. Bahkan terendah dalam 5 tahun terakhir. Data Kementerian Pertanian, Kamis (8/12/2022) menyajikan, penyerapan beras Bulog sepanjang Januari-Desember 2018 hingga 2021. Berturut-turut adalah: 1.488.584 ton, 1.201.264 ton, 1.256.507 ton, dan 1.216.311 ton.

Dari data penyerapan beras Bulog tersebut, catatan pengadaan beras atau gabah setara beras di dalam negeri, paling banyak terjadi di Maret hingga September, mencapai di atas 100 ribu ton.

Pada periode panen raya padi yang biasanya terjadi pada Maret hingga Juni setiap tahun, penyerapan Bulog terbanyak terjadi pada 2018. Di mana, Bulog menyerap beras petani 215.103 ton pada Maret; 351.630 ton pada April; 272.124 ton pada Mei; dan 133.044 ton pada Juni.

Sedangkan penyerapan terendahnya pada 2022 dengan 48.702 ton pada Maret, 201.222 ton pada April, 138.684 ton pada Mei, dan 146.160 ton pada Juni.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button