Direktur Kementerian Kesehatan Gaza, Monir al-Bashr, mengungkapkan sebanyak tujuh anak, termasuk seorang bayi perempuan berusia dua bulan, meninggal akibat cuaca dingin di Gaza dalam waktu 24 jam terakhir.
Al-Bashr, Rabu (26/2/2025) mendesak organisasi internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil tindakan guna melindungi anak-anak dari dampak tragis perang genosida Israel di wilayah tersebut.
Israel telah melarang masuknya rumah-rumah mobil dan alat berat yang diperlukan untuk membersihkan puing-puing di Gaza, meskipun ada perjanjian gencatan senjata dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Akibatnya, banyak warga Palestina kini terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda di tengah reruntuhan rumah mereka.
Al-Bashr menyebutkan anak-anak terus meninggal karena pusat-pusat medis serta peralatan penting telah hancur di bagian utara wilayah yang terkepung tersebut.
Dia juga menyerukan bantuan kemanusiaan segera untuk mengatasi krisis kesehatan yang semakin memburuk di Gaza.
Sementara itu, PBB melaporkan 40.000 orang telah dipaksa mengungsi dari rumah mereka di wilayah pendudukan Tepi Barat, seiring dengan berlanjutnya operasi militer Israel.
“Saya ingin menyoroti pernyataan Philippe Lazzarini, kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina/UNRWA, yang mengatakan bahwa lebih dari 50 orang, termasuk anak-anak, dilaporkan tewas sejak operasi pasukan Israel dimulai lima pekan lalu di Tepi Barat,” kata Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers, Rabu (26/2/2025).
Dujarric menambahkan penghancuran infrastruktur publik, perataan jalanan dengan buldoser, serta pembatasan akses kini dianggap menjadi hal yang lumrah terutama di bagian utara wilayah yang diduduki.
Dia menyebutkan sekitar 40.000 orang telah terpaksa meninggalkan rumah mereka, terutama dari kam-kamp pengungsi di wilayah utara.
“Kemarin, pasukan Israel melakukan penggerebekan selama 14 jam di Kota Nablus, yang menyebabkan satu korban jiwa dan sejumlah orang terluka,” ungkap Dujarric.
“Dalam operasi tersebut, pasukan Israel menutup pos-pos pemeriksaan di sekitar Nablus sehingga membuat banyak orang terjebak selama beberapa jam,” tambah Dujarric.