Inersia

Waspadai Rebound COVID-19, Seberapa Bahayakah?

Presiden Amerika Serikat Joe Biden sempat sembuh dari COVID-19 namun mengalami rebound sehingga kembali positif. Mengapa rebound COVID-19 ini bisa terjadi? Apa saja gejalanya dan apakah berbahaya bagi pasiennya?

Biden sempat sembuh dari COVID-19 tapi empat hari kemudian kembali positif setelah melakukan tes PCR. Fenomena ini diduga merupakan fenomena rebound karena terapi obat Paxlovid. Menurut dokter kepresidenan Kevin O’Connor, kondisi tersebut sebagai kasus ‘rebound positif’.

Mungkin anda suka

Presiden berusia 79 tahun itu rutin mengonsumsi Paxlovid sesuai cara minumnya yaitu dua kali sehari selama lima hari. Setelah mengonsumsi obat itu, ia sembuh dan gejalanya membaik. Namun ketika di tes PCR, ia kembali positif tapi tanpa gejala.

Fenomena rebound ini umum terjadi pada sekitar 10 persen pasien yang diberikan obat Paxlovid. Pasien dapat sembuh dan negatif, tapi dalam waktu dekat muncul gejala lagi dan terdeteksi positif lagi. Uniknya, pasien rebound ini kembali menular jadi harus mendapat isolasi lagi.

Gara-gara Paxlovid?

Paxlovid adalah pengobatan kombinasi yang menggunakan dua antivirus berbeda yakni Nirmatrelvir dan ritonavir. Nirmatrelvir bekerja untuk mencegah replikasi virus. Ini dilakukan dengan menghentikan enzim virus yang disebut protease.

Lara Herrero pemimpin penelitian di bidang Virologi dan Penyakit Menular di Griffith University, mengungkapkan, SARS-CoV-2, seperti banyak virus, mengandalkan protease untuk ‘mengaktifkan’ mereka. Tanpa protease, siklus replikasi virus tidak dapat diselesaikan dan virus tidak dapat aktif. Jadi, alih-alih ‘membunuh’ virus, ia menghentikan partikel virus ‘aktif’ baru yang dibuat.

“Ritonavir adalah ‘agen penguat’ yang mencegah metabolisme nirmatrelvir, yang berarti nirmatrelvir tetap berada di sistem Anda lebih lama. Ritonavir telah digunakan dalam dosis rendah untuk meningkatkan efektivitas antivirus protease lainnya pada infeksi seperti HIV,” kata Lara mengutip dari The Conversation dan CNA.

Pengobatan Paxlovid melibatkan penggunaan dua tablet nirmatrelvir 150mg dan satu tablet ritonavir 100mg, secara bersamaan, setiap 12 jam selama lima hari. Seperti semua antivirus, penting untuk memulai pengobatan Paxlovid sesegera mungkin setelah diagnosis COVID. Ini perlu dilakukan dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala, sehingga dapat mengurangi replikasi virus dan dengan demikian mengurangi penyebaran virus di dalam tubuh.

Dalam uji klinis, Paxlovid menunjukkan pengurangan 89 persen dalam risiko rawat inap dan kematian. Tidak ada kematian yang tercatat di antara mereka yang menerima perawatan. Dibandingkan dengan orang dalam penelitian yang tidak menerima obat, pengobatan Paxlovid juga mengurangi viral load ketika diukur pada hari kelima penelitian.

Dr RA Adaninggar SpPD dalam akun Instagram-nya @drningz menjelaskan fenomena ini akibat efek obat anti-virus. Menurut dia, Paxlovid adalah salah satu anti-virus yang bisa diminum atau oral yang bisa digunakan bagi pasien COVID-19 gejala ringan atau sedang dengan efektivitas yang cukup baik dalam menekan gejala berat dan kematian.

Saat ini Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS masih merekomendasikan Paxlovid sebagai pengobatan yang efektif untuk COVID-19 pada orang yang berisiko tinggi untuk penyakit parah.

Mengapa terjadi Rebound?

Rebound COVID-19 terjadi ketika seseorang sembuh dari virus, yang berarti dites PCR negatif namun beberapa hari kemudian, dites positif lagi atau kembali mengalami gejala. Rebound tidak khusus untuk orang yang telah menggunakan Paxlovid tetapi juga dapat terjadi pada orang lain dengan COVID-19 yang tidak menerima perawatan obat apa pun.

Saat ini memang terjadi peningkatan laporan efek rebound pada orang yang dirawat dengan Paxlovid, termasuk Presiden Biden. Mengapa dan bagaimana rebound terjadi masih belum diketahui secara pasti. Apa yang kita ketahui adalah Paxlovid menghentikan virus dalam tubuh seseorang agar tidak bereplikasi. Hanya saja tidak berarti membunuh virus yang sudah ada di sana. Untuk itu, kita membutuhkan sistem imun tubuh.

Penelitian penyebab rebound Paxlovid terus berlangsung. Satu teori menyebutkan pengobatan Paxlovid lima hari tidak cukup lama untuk menekan replikasi virus untuk memungkinkan sistem kekebalan menyerang dan membunuh virus. Atau mungkin kapan pengobatan dimulai mempengaruhi bagaimana sistem kekebalan bekerja. Teori lain adalah obat tidak diminum sesuai resep.

Sebuah studi baru-baru ini tentang rebound setelah Paxlovid pada 11.000 orang, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, menemukan bahwa tujuh hari setelah perawatan, 3,53 persen peserta memiliki tes PCR positif rebound dan 2,31 persen memiliki gejala rebound. Setelah 30 hari, 5,4 persen dinyatakan positif dan 5,87 persen memiliki gejala. Jadi hanya karena Anda telah menerima pengobatan antivirus SARS-CoV-2, tidak secara otomatis berarti Anda ‘sembuh’.

Mengutip Healthline, CDC mengatakan beberapa orang yang diobati dengan Paxlovid mengalami COVID-19 rebound antara dua dan 8 hari setelah pemulihan awal. Orang-orang ini mengalami kembalinya gejala dan/atau tes COVID positif baru setelah dites negatif. Ini telah terjadi pada orang yang tidak divaksinasi, serta mereka yang divaksinasi dan mendapat suntikan booster.

Seberapa Sakit Ketika Alami Rebound COVID?

Sementara para ilmuwan dan dokter dalam tahap awal menyelidiki rebound Paxlovid, laporan awal menunjukkan gejala yang timbul cenderung ringan. Gejala yang kembali biasanya adalah pilek, sakit tenggorokan atau batuk. Ada sangat sedikit laporan kasus rebound parah hingga memerlukan rawat inap dan tidak ada laporan rebound yang mengakibatkan kematian.

Penting untuk diingat bahwa jika masih memiliki gejala, Anda mungkin masih menular. Jika memiliki gejala yang berkelanjutan setelah masa isolasi, Anda harus berhati-hati untuk tidak menyebarkan virus. Seseorang yang pulih, bahkan jika bebas gejala, mungkin juga dapat menyebarkan virus.

Fenomena rebound COVID-19 ini harus menjadi kewaspadaan bagi seluruh pihak, baik pasien maupun dokter yang nantinya memberikan obat Paxlovid. Apalagi obat ini sudah bisa diberikan di Indonesia karena telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button