Bisnis

Inflasi Tembus 200 Persen, Bayang-bayang Kelabu Inflasi 1990-an Rundung Rusia

Tingkat inflasi Rusia disebut-sebut telah mencapai 200 persen, dengan perkiraan ekonominya akan menyusut 10 persen hingga 15 persen pada akhir tahun ini. Hal tersebut memicu spekulasi dan kekhawatiran negara itu akan kembali mengalami hiperinflasi sebagaimana terjadi pada 1990-an lalu.

Pernyataan bahwa inflasi ekonomi Rusia telah menembus angka 200 persen per tahun itu dikemukakan Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Brian Deese. Deese yang berbicara pada sarapan yang diselenggarakan oleh Christian Science Monitor, Rabu (6/4/2022) menyatakan, inflasi di negara itu sekarang berjalan pada tingkat tahunan 200 persen atau 2 persen seminggu. Ia juga memperkirakan bahwa ekonomi Rusia akan menyusut 10 persen hingga 15 persen pada akhir tahun ini.

Penasihat ekonomi Presiden Biden itu menegaskan bahwa harga yang melonjak di luar kendali di Rusia disebabkan efek sanksi terhadap invasi Vladimir Putin ke Ukraina, yang memicu kekurangan barang dan memukul rubel.

“Inflasi di negara itu sekarang berjalan pada tingkat tahunan 200 persen atau 2 persen seminggu,” kata Deese.

Pada hari Rabu, AS meluncurkan serangkaian sanksi baru yang mencegah perusahaan AS berinvestasi di fasilitas Rusia atau di perusahaan baru Rusia. Pembatasan itu juga memberikan sanksi kepada dua putri Putin untuk pertama kalinya dalam sejarah.

“Amerika Serikat dan lebih dari 30 sekutu dan mitra di seluruh dunia telah memberlakukan pembatasan ekonomi yang paling berdampak, terkoordinasi, dan luas dalam sejarah,”kata Gedung Putih. “Rusia kemungkinan besar akan kehilangan statusnya sebagai ekonomi utama, dan akan terus turun ke dalam isolasi ekonomi, keuangan, dan teknologi.”

Ancaman hiperinflasi

Perkiraan inflasi Deese itu merupakan lompatan besar dari tingkat tahunan 8,4 persen yang dilaporkan pemerintah untuk tahun 2021. Data Rusia sendiri menunjukkan kenaikan harga dengan cepat, dengan kementerian ekonomi negara itu melaporkan inflasi tahunan 14,5 persen pada bulan Maret.

Untuk mencegah hiperinflasi, bank sentral Rusia telah menaikkan suku bunga dari menjadi 20 persen dari 9,5 persen, dan memerintahkan perusahaan untuk menjual 80 persen dari pendapatan mata uang asing mereka untuk mendukung rubel.

Terakhir kali Rusia mengalami hiperinflasi adalah pada 1990-an, setelah runtuhnya Uni Soviet. Berakhirnya kontrol harga dan transisi berbatu dari komunisme menyebabkan kekacauan ekonomi, dengan tingkat inflasi tahunan mencapai tertinggi sepanjang masa, yakni 2.333 persen pada tahun 1992.

Periode ketidakstabilan ekonomi itu mengatur panggung bagi kebangkitan Putin, yang berjanji akan membawa negara itu kembali ke jalur kesejahteraan dengan partai reformisnya. “Kita adalah negara kaya dengan orang-orang miskin. Dan itu adalah situasi yang tidak dapat ditoleransi,” kata Putin kepada para pemilih pada tahun 2000 menjelang pemilihan presiden pertamanya. Lebih dari 20 tahun kemudian, invasi tak beralasannya ke Ukraina membuat Rusia semakin miskin. [CSMonitor/ QZ.com]

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button