Inersia

Kata Psikolog Soal Anak Nangis Usai Nonton Film Miracle in Cell No 7 Versi Indonesia

Film Miracle in Cell No 7 versi Indonesia bisa disaksikan semua umur. Hampir setiap orang yang menonton film Miracle in Cell No 7 versi Indonesia menitikan air mata. Karena, alur cerita yang dibangun sangat kental dengan kedekatan seorang ayah dan anak.

Melihat tidak sedikit orang terutama anak-anak yang menangis saat menonton film garapan rumah produksi Falcon Pictures tersebut, psikolog anak RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psi angkat bicara.

“Film umumnya memang melibatkan emosi-emosi dari setiap karakter. Dari segi penceritaan, penonton dibawa masuk untuk mengenal karakter-karakternya terlebih dahulu, sehingga penonton membangun empati terhadap tokoh-tokoh, turut merasakan emosi dari tokoh-tokoh tersebut,” papar Jane ditulis di Jakarta, Selasa, (21/09/2022).

Dengan penggabungan elemen musik, emosi penonton juga mudah larut. Hal ini juga menjadi sebuah faktor pendukung.

“Musiknya pun dipilih yang sesuai dan biasanya memang musik tersebut tujuannya untuk membangun emosi yang sedang ditampilkan dalam adegan film. Untuk anak-anak yang menangis dan memeluk ortunya setelah menonton, artinya mereka punya kepekaan emosi yang baik,” tambahnya.

Anak-anak yang menangis adalah sebuah kewajaran, artinya mereka bisa berempati dengan tokoh dalam film dan ikut merasakan kesedihan.

“Bisa juga nanti orang tua-orang tua yang ajak anaknya nonton, tanyakan ke anak, apa yang mereka rasakan setelah nonton film tersebut, nanti bisa digali lebih dalam,” tegasnya.

Jane Cindy yang sudah menonton film itu memuji akting Vino G Bastian.

“Kebetulan saya sudah menonton filmya, memang sangat bagus dalam menggambarkan kedekatan hubungan ayah dengan anaknya. Selain itu, Vino G. Bastian (pemeran Dodo) bisa deliver karakter Dodo sebagai individu dengan disabilitas intelektual dengan sangat baik. Hal ini juga bisa membantu masyarakat awam untuk lebih aware dengan kondisi individu dengan disabilitas intelektual,” ujarnya.

Menurut Jane, terlihat juga bagaimana anak (Kartika), berperan menjadi orang tua bagi bapaknya yang punya kondisi keterbelakangan mental. Hal ini sebetulnya banyak terjadi juga di dunia nyata, anak merawat orang tuanya karena kondisi orang tua yang tidak memungkinkan sehingga bisa membuat anak tergugah empatinya.

“Dan di film ini bagus sekali digambarkan soal konsep anak mengasuh ortu pada adegan Kartika menyiapkan bekal, handuk, dan baju ganti untuk bapaknya bekerja, kemudian mengingatkan ayahnya untuk makan, dan ketika bapaknya bekerja jualan balon pun, anaknya yg mengantarkan balon-balonnya dan meminta fee yang fair ke pembeli,” terangnya.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button