Hangout

Kasus Anak Vincent Rompies, Bullying dan Kekerasan Kian Dekat dengan Anak-anak Kita


Untuk kesekian kalinya, masyarakat kembali geregetan mendengar peristiwa bullying atau perundungan dengan kekerasan kembali terjadi di tengah-tengah kita. Apalagi dalam peristiwa kali ini ikut melibatkan anak seorang artis terkenal.

Sebelumnya, beredar di media sosial perundungan yang dilakukan sejumlah siswa di Sekolah Binus Serpong, Tanggerang. Hal tersebut beredar kabar melalui akun X milik @BosPurwa. “Gue dapat info, ada perundungan di SMA Binus Intl BSD, seorang anak dipukulin sama belasan seniornya hingga masuk rumah sakit,” demikian ditulis dari akun X @BosPurwa, Jakarta, Senin (19/2/2024).

Disebutkan sekelompok geng bernama Geng Tai (GT) seringkali melakukan hal menyimpang yang mengandung unsur krimimal seperti merokok, vapeing bahkan melakukan kekerasan. Disebut-sebut, anak artis Vincent Rompies terlibat dalam geng ini. “Mereka anak-anak pesohor,” katanya. Polisi sudah turun tangan menangani masalah ini.

Indonesia Darurat Bullying

Mendengar kasus bullying atau perundungan, masyarakat sudah pasti geregetan. Parahnya perundungan ini dilakukan dengan kekerasan yang dilakukan anak-anak atau remaja. Kejadian seperti ini terus terjadi bahkan menyebabkan korbannya meninggal dunia

Dikutip dari buku “Seri Pendidikan Orang Tua: Ayo Bantu Anak Hindari Perundungan” yang diterbitkan Kemendikbud (2017), perundungan atau bullying merujuk pada perilaku tidak menyenangkan yang dilakukan secara sengaja dan berulang sehingga menyebabkan orang atau korban mengalami trauma dan tidak berdaya. 

Sementara UNICEF menyebut, bullying merupakan pola perilaku, bukan insiden yang terjadi sekali-kali. Anak-anak yang melakukan bullying biasanya berasal dari status sosial atau posisi kekuasaan yang lebih tinggi, seperti anak-anak yang lebih besar, lebih kuat, atau dianggap populer sehingga dapat menyalahgunakan posisinya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat adanya temuan kasus perundungan yang semakin meningkat kisaran 30-60 kasus per tahun. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat kelima dalam kasus perundungan.

Sementara data Programme for International Students Assessment (PISA) anak dan remaja di Indonesia mengalami 15 persen intimidasi, 19 persen dikucilkan, 22 persen dihina, 14 persen diancam, 18 persen didorong sampai dipukul teman dan 20 persen digosipkan kabar buruk.

Sedangkan United Nation International Children’s Emergency Fund (UNICEF) menilai kondisi perundungan di Indonesia lebih parah lagi. UNICEF mencatat Indonesia memiliki persentase tinggi terkait kekerasan anak. Bila dibandingkan negara Asia lainnya seperti Vietnam, Nepal maupun Kamboja, Indonesia menempati posisi yang lebih tinggi.

Anak laki-laki lebih mungkin mengalami bullying fisik, sedangkan anak perempuan lebih mungkin mengalami bullying secara psikologis, walaupun jenis keduanya tentu cenderung saling berhubungan.

Anak-anak yang paling rentan menghadapi risiko lebih tinggi untuk di-bully seringkali adalah anak-anak yang berasal dari masyarakat yang terpinggirkan, anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, anak-anak dengan penampilan atau ukuran tubuh yang berbeda, anak-anak penyandang disabilitas, atau anak-anak migran dan pengungsi.

Parahnya, kasus perundungan ini jarang terungkap karena memang korbannya mengalami ketakutan dan trauma. Kebanyakan korban cenderung menutupi rasa sakit yang mereka derita. Namun, luka yang mereka terima akan terus berbekas dalam waktu yang lama, dan bahkan bisa mempengaruhi masa depan mereka sebagai seorang individu. Atau dalam skenario terburuk, dapat merenggut nyawa.

Kekerasan terhadap Anak 

Bullying selain berbentuk intimidasi dan ancaman verbal, juga seringkali diiringi dengan kekerasan anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat selama periode 2016-2020 ada 655 anak yang harus berhadapan dengan hukum karena menjadi pelaku kekerasan. Rinciannya, 506 anak melakukan kekerasan fisik dan 149 anak melakukan kekerasan psikis. 

Jumlah anak yang berhadapan dengan hukum ini konsisten berada di atas 100 orang per tahun selama 2016-2019. Angkanya kemudian turun menjadi 69 anak pada 2020, dengan rincian 58 anak sebagai pelaku kekerasan fisik dan 11 anak pelaku kekerasan psikis.

Di seluruh dunia sejak lama muncul kekhawatiran besar timbulnya perilaku kekerasan di kalangan anak-anak dan remaja. Masalah yang kompleks dan meresahkan ini perlu dipahami secara cermat oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya.

Perilaku kekerasan pada anak-anak dan remaja dapat mencakup berbagai macam perilaku. Seperti kemarahan yang meledak-ledak, agresi fisik, perkelahian, ancaman atau upaya untuk menyakiti orang lain (termasuk pikiran ingin membunuh orang lain), penggunaan senjata, kekejaman terhadap hewan, pembakaran, perusakan properti dan vandalisme dengan sengaja.

Menurut The American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa interaksi kompleks atau kombinasi berbagai faktor menyebabkan peningkatan risiko perilaku kekerasan pada anak-anak dan remaja. Faktor-faktor ini meliputi perilaku agresif atau kekerasan sebelumnya, menjadi korban kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual, paparan kekerasan di rumah dan/atau komunitas atau menjadi korban bullying.

Bisa juga karena faktor genetik (keturunan keluarga), paparan kekaran di media seperti internet, televisi, film atau game online dengan kekerasan, penggunaan obat-obatan terlarang dan atau alcohol serta keberadaan senjata api di rumah. 

Bisa juga karena kombinasi faktor sosial ekonomi keluarga yang penuh tekanan. Misalnya saja kemiskinan, kekurangan yang parah, putusnya perkawinan, pengasuhan anak tunggal, pengangguran, hingga kehilangan dukungan dari keluarga besar. Bisa pula akibat kerusakan otak akibat cedera kepala.

Bagaimana Pencegahannya?

Bullying atau kekerasan anak bisa terjadi pada anak-anak siapa saja. Pencegahan yang terpenting adalah dilakukan sejak dini. Ajari anak-anak tentang bullying. Ini penting agar mereka tahu apa itu bullying sehingga mereka dapat mengidentifikasinya dengan lebih mudah, apakah itu terjadi pada mereka atau teman-temannya.

Kembangkan gaya komunikasi dengan anak-anak sejak kecil dengan lebih terbuka. Orang tua bisa memulainya dengan memancing anak-anak bercerita apa saja yang dialaminya setiap hari di sekolah. Tanyakan pula perasaan mereka, perhatikan saat berbicara apakah ia terlihat gugup, ada yang disembunyikan atau cek tampilan fisik maupun psikis saat pulang sekolah.

Untuk faktor kekerasan, sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku kekerasan dapat dikurangi atau bahkan dicegah jika faktor-faktor risikonya dikurangi atau dihilangkan secara signifikan. Yang paling penting, upaya-upaya tersebut harus diarahkan untuk secara signifikan mengurangi paparan anak-anak dan remaja terhadap kekerasan di rumah, komunitas, dan melalui media. Jelas, mengonsumsi kekerasan mengarah pada perilaku kekerasan.

Tindakan perundungan atau kekerasan anak-anak tidak boleh lagi dianggap sebagai hal yang lumrah. Karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin di masa depan pelaku dapat berpotensi melakukan tindakan kriminal. Sementara bagi korban juga akan terganggu perkembangan kesehatan mentalnya karena pengalaman buruk ini akan berpengaruh pada saat dewasa nanti.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button