Market

Pajak Capai Rp1.634 Triliun, Kontribusi Usaha Tambang Nikel CNI Group Diapresiasi

pajak-capai-rp1.634-triliun,-kontribusi-usaha-tambang-nikel-cni-group-diapresiasi

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan, hingga 14 Desember 2022 penerimaan pajak telah mencapai Rp1.634,4 triliun. Angka tersebut sebagian disumbang oleh perusahaan-perusahaan tambang, tak terkecuali PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) Gorup.

Proyek Strategis Nasional (PSN) itu mendapatkan apresiasi dari Direktorat Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kolaka, Sulawesi Tenggara pada Selasa (20/12/2022). Meski kontribusinya masih relatif kecil dibandingkan total penerimaan pajak nasional, sejauh ini, kontribusi pajak CNI Group merupakan yang terbesar di kabupaten tersebut.

“Kami berterima kasih atas kontribusi yang telah diberikan CNI Group selama terdaftar di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) Kolaka. Tahun ini kami mencapai target penerimaan pajak untuk yang keempat kali dalam 4 tahun beturut-turut,” kata Kepala KPP Pratama Kolaka, Jarod Sri Raharjo saat menyerahkan penghargaan dari Direktorat Jenderal Pajak kepada Presiden Direktur CNI Group, Derian Sakmiwata melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (22/12/2022).

Sebagai perwakilan Dirjen Pajak, khsusunya KPP Kolaka, Jarod mengungkapkan keinginannya untuk bisa membangun kerjasama yang lebih baik dengan wajib pajak. “Apalagi CNI Group saat ini sedang membangun proyek smelter nikel, tentunya patut kami support,” jelas dia.

Dia menegaskan, pemerintah mengapresiasi kontribusi pajak dari CNI Group, perusahaan pertambangan nikel yang beroperasi di Kabupaten Kolaka.

“CNI Group diberi penghargaan atas kontribusi penerimaan pajak terbesar untuk kategori perusahaan tambang swasta di wilayah kerja Kolaka,” ucapnya.

Menurut dia, kontribusi pajak CNI Group berhasil mendongkrak penerimaan pajak di wilayah KPP Kolaka hingga mencapai target untuk tahun keempat. Konstribusi pajak CNI Group juga turut memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.

Sebagai PSN, CNI Group memiliki komitmen penuh untuk memberikan kontribusi kepada negara lewat pajak dan sebagai motor penggerak ekonomi nasional khususnya di wilayah Kolaka.

Dengan penyelesaian proyek smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang sedang dibangun saat ini, Ceria menjadi simbol perusahaan tambang nikel merah putih yang ikut menyukseskan program hilirisasi nikel. Ini sesuai dengan apa yang Presiden Joko Widodo (Jokowi) canangkan.

“Kami memandang CNI Group bisa menjadi contoh perusahaan tambang swasta nasional yang  pelaporan dan pembayaran pajak sangat baik. Semoga CNI Group bisa menjadi simbol merah putih perusahaan tambang nikel terbesar di Tanah Air,” ucap Jarod tandas.

Penerimaan Pajak Tembus Rp 1.634,4 Triliun

Sebelumnya, Kemenkeu menyatakan, penerimaan pajak telah mencapai Rp1.634,4 triliun hingga 14 Desember 2022. Pencapaian tersebut, sudah 110,06% dari target yang tertuang dalam Perpres Nomor 98/2022 sebesar Rp 1.485 triliun.

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan pajak tahun 2021, terjadi pertumbuhan 41,93%  yang saat itu mencapai Rp1.151,5 triliun.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kenaikan penerimaan pajak yang sangat tinggi terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang baik, pemulihan ekonomi yang baik, komoditas yang juga meningkat, serta reformasi dari legislasi Undang Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

“Kenaikan yang sangat tinggi ini akan menjadi modal kita untuk menjaga agar APBN menjadi makin sehat sehingga APBN bisa melindungi masyarakat melindungi ekonomi dan terus mendukungpembangunan Indonesia,” ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, di Jakarta, Selasa (20/12/2022).

Realisasi penerimaan pajak itu terbagi dalam Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas Rp900 triliun atau mencapai 120,2% dari target, pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar Rp629,8 triliun atau 98,6% dari target, Pajak Bumi Bangunn (PBB) dan pajak lainnnya Rp29,2 triliun atau 90,4% dari target dan PPh migas Rp75,4 triliun atau 116,6% dari target.

Bila dilihat menurut jenis pajak, kata Sri Mulyani, kinerja penerimaan pajak ditopang oleh pemulihan ekonomi, harga komoditas, serta bauran kebijakan. PPh 21 atau pajak karyawan mengalami kenaikan 19,58% dengan kontribusi ke penerimaan pajak mencapai 10,3%.

“Pertumbuhan PPh 21 menunjukan bahwa pemulihan ekonomi domestik disertai dengan kenaikan dari para karyawan. Baik dari sisi rekrutmen maupun kenaikan gaji. Karena pajak yang disetorkan naik 19,8% dibanding tahun lalu yang masih kontraktif 0,12%,” imbuh Sri Mulyani.

PPh 22 impor mengalami pertumbuhan paling tinggi 89,14% hingga 14 Desember 2022. Komponen ini memberikan kontribusi 4,3% pada penerimaan pajak. Pertumbuhan pada PPh 22 impor ini menunjukan geliat dari industri yang membutuhkan impor bahan baku dan barang modal.

“Ini berarti memang berbagai kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk mendukung industri manufaktur dengan impor berbagai bahan baku, barang modal, menunjukkan aktivitas yang cukup sehat,” kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan, PPh orang pribadi mengalami kontraksi 1,06% dan memberikan kontraksi 0,7% pada penerimaan pajak. Berbeda dengan orang pribadi, PPh badan mengalami pertumbuhan pesat hingga 88,44%. PPh badan memberikan kontribusi 20,7%.

“Ini artinya korporasi-korporasi di Indonesia yang menyumbangkan 20,7% dari total penerimaan pajak kita. Kinerja korporasinya positif yang digambarkan dari pajak yang kita setorkan kepada negara,” sambung Menkeu.

PPh 26 tumbuh 9,39% hingga 14 Desember 2022 dan memberikan kontribusi 4,3%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 terjadi penurunan sebab saat itu pertumbuhan PPh 26 mencapai PPh 26 terkontraksi pada bulan November disebabkan menurun pembayaran PPh ditanggung pemerintah (DTP) valas.

“Jadi tidak merupakan suatu cerita yang reguler tapi lebih karena adanya aktivitas khusus. Secara Januari sampai 14 Desember 2022 kita menunjukkan masih ada pertumbuhan 9,39%,” kata Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

PPh final tumbuh 54,42% dengan andil 9,9% ke penerimaan pajak. Untuk Pph final yang menggambarkan kegiatan ekonomi dalam negeri kita terlihat kenaikan yang cukup tinggi yaitu 54,4%.

“Kalau kita lihat PPH final ini terutama dari persewaan tanah bangunan dan penjualan saham,” imbuh Sri Mulyani.

PPN Dalam Negeri tumbuh 23,4% dengan andil 21,4%. Komponen ini menggambarkan kegiatan pertambahan nilai aktivitas ekonomi pertumbuhannya mencapai 23,4% ini juga menggambarkan adanya pertumbuhan ekonomi.

“Karena di dalam PPN dalam negeri ada kegiatan ekspor yang kemudian mengalami restitusi yang cukup tajam jadi waktu ekspornya meningkat juga ada beberapa kegiatan yang menimbulkan dampak pajak kita yaitu restitusi,” tandas Menkeu.

Sementar itu PPN impor masih konsisten 43,4 dengan kontribusi hingga 15%. Menurut Menkeu pertumbuhan PPN impor berjalan konsisten sejak kuartal I 2022. “Pertumuhannya cukup konsisten dari kuartal 1 hingga kuartal 3 dan bulan Oktober November Desember yang semuanya masih tumbuh double digit,” imbuh Sri Mulyani.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button