Arena

Sajian Sampah “Setan Merah” yang Kehilangan Arah

Dalam satu dekade, Manchester United (MU) adalah klub yang paling superior dan mampu memberikan ketakutan pada setiap lawannya di Liga inggris. “Setan Merah” julukannya tersemat mampu menghadirkan ketakutan bagi lawan-lawannya. Namun MU Kini malah memperagakan bak klub medioker akibat buruknya manajemen klub, satu dekade terakhir.

Hal ini terbukti dari sepekan Liga Inggris musim 2022-2023 bergulir, MU telah menelan dua kekalahan beruntun. Ironisnya, kekalahan itu diderita dari tim-tim papan tengah dan bawah yang kekuatannya jauh di bawah mereka, yaitu Brighton & Hove Albion (1-2) dan Brentford FC (0-4).

Mungkin anda suka

Koleksi nol poin dan selisih gol minus lima dari dua laga awal membuat klub tersukses di era Liga Primer (sejak 1992) itu terbenam di dasar klasemen. Mereka menjadi tim terburuk dari 20 klub di liga itu, setidaknya hingga saat ini. Bukan hanya itu, karier manajernya, Erik ten Hag, ikut tercoreng.

Mantan pelatih yang membawa Ajax Amsterdam tampil memukau dan lolos ke semifinal Liga Champions Eropa musim 2018-2019 lalu itu langsung meninggalkan noktah hitam di Inggris. Ten Hag menjadi manajer kedua sepanjang sejarah MU, setelah John Chapman pada satu abad lalu, yang menelan kekalahan pada dua laga resmi di awal musim.

Seperti saat dibekap Brighton & Hove Albion di Stadion Old Trafford, pekan lalu, skuad MU nampak gagap saat menghadapi tim langganan Divisi Championship (kasta kedua di Liga Inggris), Brentford, Minggu (14/8/2022) dini hari WIB. Mereka kebingungan menerjemahkan permainan Ten Hag yang menyukai permainan menekan dengan garis pertahanan tinggi.

Ten Hag pun murka dan menyebut penampilan pemainnya pada babak pertama itu sebagai sampah.

“Cukup jelas itu sampah, itu buruk dan kami membutuhkan standar yang lebih tinggi dari itu dan itu jelas,” ujar Ten Hag mengutip Metro.

Dalam waktu hanya 35 menit, Setan Merah luluh lantak dan kebobolan empat gol dari tuan rumah yang bermain energik dan efisien. MU seolah-olah menghadapi lawan seperti diri mereka sendiri di masa kejayaannya bersama Sir Alex Ferguson, yaitu bermain cepat, penuh tekad, bengis, dan tanpa ampun.

“Saya mengganti tiga pemain (saat jeda pergantian babak). Saya bisa saja mengganti semua pemain (jika dibolehkan),” ujar Ten Hag, yang tidak mampu menutupi kekecewaan atas penampilan timnya, seusai laga itu.

Ten hag belum dipercaya

Ten Hag memang punya sumbangsih atas kekalahan memalukan MU itu. Ia sendiri nampak masih bingung menerapkan “starting eleven” terbaiknya. Sebagai contoh, gelandang serang rekrutan  musim panas ini, Christian Eriksen, menjadi posisi sebagai tandem Fred di lini tengah. Padahal, Eriksen bukanlah gelandang pivot atau deeper role yang bagus dalam bertahan dan memiliki daya jelajah luas.

Terbukti, pemain yang memakai defibrillator atau alat pemantau detak jantung itu memberi “hadiah” ke klub lamanya lewat blunder yang berujung gol kedua tuan rumah. Ten Hag jelas masih bingung bagaimana mengoptimalkan pemain barunya itu. Pada laga sebelumnya, Eriksen bahkan dipasang sebagai ujung tombak “false nine”. Hasilnya, lagi-lagi buruk. MU kalah dari Albion, 1-2.

Gettyimages 1414658497 612x612 - inilah.com
Foto Gettyimages

Ten Hag sepertinya memang tidak punya banyak pilihan. Di markas Brentford, ia memasang Cristiano Ronaldo sebagai striker mula untuk pertama kalinya pada musim ini. Namun, Ronaldo bukan lagi pemain yang sama seperti musim lalu, yaitu saat mendulang 18 gol dari 30 laga liga itu, jumlah gol yang sama sebelum terakhir kali ia meninggalkan MU pada 2009 silam.

Ronaldo saat ini adalah pemain yang “setengah hati” tampil. Bukan lagi rahasia jika pemain berjuluk “CR7” itu ingin hengkang, salah satu alasannya karena MU absen di Liga Champions pada musim ini. Maka, ia mangkir berlatih dan tak bergabung dengan rekan-rekannya pada tur pramusim MU, beberapa waktu lalu.

Mempertahankan pemain yang tidak lagi ingin berada di klub adalah sebuah kesalahan besar. Itulah mengapa, Juventus rela melepasnya ketika Liga Italia menginjak pekan ketiga, musim lalu. Namun, sikap Ronaldo terlanjur meninggalkan masalah, antara lain mencari penggantinya di awal musim. Tak pelak, klub Italia itu terpuruk, musim lalu.

Ronaldo toxic

Menurut John Barnes, legenda MU, sikap egois Ronaldo ibarat toxic alias racun di dalam tim. “Harmoni di MU adalah sebuah masalah. Dia (Ronaldo) menyebabkan disharmoni. Ketika bola tak mengarah kepadanya, dia mengangkat tangannya. Apa itu contoh yang baik?” ujarnya dikutip The Sun, beberapa waktu lalu.

Gettyimages 1414657010 612x612 - inilah.com
Foto Gettyimages

Terlepas dari hal itu, skuad MU saat ini jelas kehilangan sosok pemimpin atau jenderal di lapangan. Pada era Ferguson, dari dekade ke dekade, MU selalu memiliki kapten yang tegas dan kharismatik, mulai dari Eric Cantona, Roy Keane, hingga Nemanja Vidic. Ferguson lebih menyukai pemain yang punya karakter dan tekad kuat, ketimbang yang sudah telanjur populer. Alasannya, agar skuad senantiasa punya “jiwa lapar”.

Buruknya kebijakan transfer pemain yang manajemen MU lakukan, hampir satu dekade terakhir, ikut berdampak pada miskinnya prestasi klub itu. Setelah Ferguson lengser, Setan Merah mendatangkan begitu banyak pemain bintang, seperti Memphis Depay, Angel Di Maria, Radamel Falcao, Zlatan Ibrahimovic, tanpa arah yang jelas untuk membangun tim.

MU mendatangkan dan menjual banyak bintang, nyaris tanpa memedulikan keinginan sang manajer. Ten Hag, misalnya, menginginkan setidaknya gelandang pivot yang kuat. Frenkie de Jong, mantan anak asuhnya di Ajax, adalah salah satu pemain baru yang ia inginkan. Alih-alih serius memboyong pemain Barcelona itu, manajemen MU kini justru menawarkan penggantinya, Adrien Rabiot yang merupakan pemain “buangan” Juve.

Butuh rekrutan anyar

MU masih punya waktu hingga akhir bulan ini untuk setidaknya memberikan skuad yang layak bersaing ke Ten Hag. Namun, akibat pengelolaan yang buruk di tangan keluarga Glazers, pendukung jangan banyak berharap. Meskipun pendapatannya masih sangat tinggi, MU terjerat hutang sebesar 627 juta pounds (Rp 11 triliun). Ironisnya, sebagian hutang itu, yaitu Rp 3,2 triliun, adalah untuk membayar transfer pemain yang belum lunas, seperti Harry Maguire.

Buruknya pengelolaan MU, yang tidak berorientasi pada prestasi dan membangun tim secara keseinambungan, pernah Louis van Gaal utarakan. “Manchester United bukanlah klub sepak bola. Itu adalah klub komersial,” ujarnya mewanti-wanti yuniornya, Ten Hag, saat posisi manajer baru MU menghampirinya.

Di tengah kondisi sulit saat ini, MU bersiap menjamu Liverpool pada lanjutan Liga Inggris, Selasa (23/8/2022) mendatang. Liverpool, yang tujuh tahun terakhir membangun skuad berdasarkan keinginan manajernya, Juergen Klopp, bisa memberikan pelajaran lanjutan bagi Setan Merah. Jika MU tak segera berbenah, mereka bisa benar-benar terjerembab ke neraka dan terdegradasi, seperti kali terakhir terjadi pada 1974 silam.

“Ini (menjadi manajer MU) adalah pekerjaan yang luar biasa berat,” ujar Ten Hag, yang memakai padanan kata hell alias neraka dalam pernyataan tentang tantangan pekerjaannya, pekan lalu.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button