Bisnis

‘Window Dressing’ Saham di Ujung 2022 untuk Panen Raya Bersama

Bursa Efek Indonesia (BEI) ditengarai sedang berada di persimpangan jalan antara peluang dan risiko menuju 2023. Namun, para pemodal masih punya peluang untuk panen raya bersama pada saham-saham window dressing di ujung 2022. Apa saja?

Pada perdagangan Jumat (2/12/2022), IHSG berakhir melemah tipis 1,164 poin (0,02%) ke posisi 7.019,639. Sepanjang perdagangan, indeks mencapai intraday tertingginya di level penutupan tersebut dan terendahnya di 6.967,950 atau melemah 52,853 poin dari posisi pembukaan di angka merah 6.988,860 dan hari sebelumnya di 7.020,803.

“BEI sedang di persimpangan jalan menuju 2023. Persimpangan antara peluang dan risiko. Risiko muncul terutama inflasi yang dipicu harga komoditas yang tinggi,” kata Pengamat dan Praktisi Pasar Saham Sem Susilo dihubungi Inilah.com dari Jakarta, akhir pekan lalu.

Mayoritas institusi keuangan dan investasi global, sambung dia, memproyeksikan tahun 2023 adalah tahun yang berat. “Berjaga-jaga atas kondisi pasar yang kurang bersahabat saat ini adalah keharusan. Namun, tidak perlu khawatir berlebihan,” ujarnya.

Orang yang selalu ketakutan, kata dia, akan memasang palang pintu berlapis-lapis. “Ketika yang mereka takuti tidak terbukti ada, mereka sudah terkurung oleh ketakutannya sendiri dan tentu kehilangan peluang,” ungkap dia.

Lebih jauh Sem menjelaskan, jika investor sudah lama berada di pasar, tentu akan paham bahwa sering kali proyeksi-proyeksi institusi-institusi ternama tersebut meleset.

“Seperti saat rebound pasar pasca-crash 2009 dan era pandemi COVID-19 di 2020. Tahun 2020 pasar bangkit di tengah-tengah pesimisme, saat itu kasus korona masih sangat tinggi,” timpal Sem.

Dua Harapan di 2023

Menurut pendiri komunitas saham pemenang ini, terdapat dua harapan di 2023, yaitu: pertama, jika harga komoditas kembali ke harga wajar dan kedua, pembukaan kembali (reopening) ekonomi China.

Komoditas, dia menjelaskan, merupakan komponen primer inflasi. “Jika kembali ke harga wajar sudah tentu inflasi akan melandai dan suku bunga juga melandai,” papar Sem.

Sementara reopening ekonomi China, menurutnya, sudah tentu akan mendorong mesin ekonomi global bergerak maju. “Sebab, China merupakan salah satu sokoguru (kekuatan penyangga) ekonomi global,” ungkap Sem.

Jika dua harapan tersebut terwujud, dia menengaskan, tahun 2023 justru akan menjadi tahun panen raya bersama.

“Sebaliknya, jika harga komoditas tetap tinggi dan China masih tetap mengunci ekonominya, maka tahun 2023 harus lebih ketat berjaga-jaga,” timpal dia.

Lima Saham Potensial Window Dressing

Bagaimana dengan peluang window dressing di Desember ini? Window dressing adalah strategi dari manajer investasi untuk meningkatkan performa portfolio sebelum penyajian kinerja kepada klien atau pemegang saham.

“Tetap terbuka peluang window dressing di saham-saham sehat dan bukan harga monas,” tuturnya. Saham-saham tersebut adalah:

  1. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di Rp6.675 dengan support 6.300 dengan target harga window dressing 8.000;
  2. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) di Rp1.900 memiliki support di 1.800 dengan target harga window dressing 2.250;
  3. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) di Rp1.540, memiliki support di 1.450 dengan target window dressing di 1.800;
  4. Saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) di Rp406 memiliki support di 380 dengan target harga window dressing di 500; dan
  5. PT Jasa Marga Tbk (JSMR) di 3.100 memiliki support di 2.900 dengan target window dressing 3.500.

“Semua saham itu perlu batasi risiko sekitar 5 persen,” imbuh Sem Susilo.

Disclaimer: Pelajari dengan teliti sebelum membeli atau menjual saham. Inilah.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button