Market

Normalisasi Harga Komoditas Bikin Ekonomi Tumbuh 4,9 Persen di 2023

Ekonom memperkirakan perekonomian nasional tumbuh sebesar 4,9 persen secara tahunan pada 2023 yang ditopang oleh konsumsi masyarakat. Angka ini memperhitungkan ekspor menurun akibat normalisasi harga komoditas dan investasi melambat karena peningkatan suku bunga acuan bank sentral.

Penerawangan tersebut datang dari Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putera Rinaldy. “Pertumbuhan Indonesia akan melambat tapi manageable, yakni tumbuh di 4,9 persen secara tahunan. Pelemahan terjadi karena pelemahan ekspor dan perlambatan investasi ,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/1/2023).

Pada 2021, penerimaan negara dari hulu migas sebesar 13,67 miliar dolar AS atau setara Rp206 triliun dan mencapai 188,8 persen dari target APBN 2020 yang mencapai 7,28 miliar dolar AS.

Pada tahun sebelumnya (2020), kontribusi hulu minyak dan gas Bumi terhadap penerimaan negara mencapai Rp122 triliun atau tercapai 144 persen dari target APBN-Perubahan 2020.

Sejak April 2020, pemerintah memberikan harga gas murah hanya 6 dolar AS per MMBTU untuk tujuh sektor industri dan kelistrikan agar mendongkrak utilisasi dan daya saing perusahaan dalam negeri.

Ketujuh industri tersebut adalah industri pupuk, industri petrokimia, industri oleokimia, industri baja, industri keramik, industri kaca, dan industri sarung tangan karet. Berkat gas murah, ketujuh industri dan kelistrikan bisa terus beroperasi di tengah mahalnya harga gas.

Sementara itu, komoditas mineral dan batu bara juga memberikan kontribusi yang positif bagi pendapatan negara setiap tahun.

Pada 2021, penerimaan negara dari sektor pertambangan mineral dan batu bara sebesar Rp124,4 triliun. Angka itu mencakup pajak, bea keluar, dan penerimaan negara bukan pajak.

Lebih jauh Leo menjelaskan, konsumsi masyarakat diprediksi akan tumbuh 4 persen sampai 6 persen secara tahunan karena penyelenggaraan pemilihan umum serentak, inflasi yang merendah, dan pertumbuhan pendapatan riil masyarakat.

Menurutnya, kampanye untuk pemilihan umum serentak akan menyumbang terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 0,6 sampai 1,3 persen.

Adapun anggaran untuk pemilu tersebut diperkirakan disalurkan secara terkonsentrasi pada semester II 2022.

Sementara itu, inflasi pada Desember 2022 yang mencapai 5,5 persen secara tahunan diperkirakan telah mencapai puncak sehingga di 2023 inflasi akan turun dan mencapai 4 persen mulai kuartal III 2023.

Inflasi diproyeksikan akan menurun di 2023 menjadi sebesar 3,8 persen karena kebijakan pemerintah mensubsidi sebagian biaya logistik untuk bahan pangan strategis yang diperkirakan akan berlanjut pada 2023.

“Harga pangan di 2203 juga terkendali dibantu oleh kondisi cuaca yang lebih normal dan netral,” imbuhnya.

Selain inflasi, konsumsi masyarakat juga akan tetap tumbuh ditopang oleh pertumbuhan pendapatan secara riil yang mencapai 7,16 persen.

“Ini penting untuk mendukung daya beli masyarakat. Apalagi pada saat yang sama, angka pengangguran juga terus menurun,” imbuhnya.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button