Inersia

Langya, Virus Baru dari Tikus Bisa Mengancam Indonesia

Belum tuntas soal pandemi COVID-19, sebuah virus hewan baru yang dapat menginfeksi manusia telah diidentifikasi di China timur. Virus bernama Langya henipavirus (LayV) dibawa dari hewan pengerat yakni tikus. Indonesia pun harus lebih waspada.

Para peneliti mengungkapkan, LayV dibawa oleh tikus, yang mungkin telah menginfeksi orang secara langsung atau melalui hewan perantara. Kemunculan virus itu dijelaskan dalam New England Journal of Medicine pada 4 Agustus lalu. Langya henipavirus, juga dikenal sebagai virus Langya, adalah spesies henipavirus yang pertama kali terdeteksi di provinsi Shandong dan Henan, China.

Para peneliti mengatakan LayV telah menginfeksi 35 orang sejak 2018. “Tidak ada kebutuhan khusus untuk mengkhawatirkan hal ini, tetapi pengawasan berkelanjutan sangat penting,” kata Edward Holmes, ahli virologi evolusioner di University of Sydney di Australia, mengutip Nature.

Virus ini dapat menyebabkan gejala pernapasan seperti demam, batuk dan kelelahan serta menyebabkan infeksi pernapasan. Tetapi, para ilmuwan mengatakan mereka tidak terlalu khawatir karena virus itu tampaknya tidak menyebar dengan mudah di antara orang-orang, juga tidak berakibat fatal.

Hanya saja kita masih ingat dengan virus di balik pandemi COVID-19 yakni SARS-CoV-2 yang bersifat zoonosis. Para ilmuwan menemukan bahwa penularan dari hewan ke manusia terjadi setelah SARS-CoV-2 muncul. Sejak akhir 2019, virus tersebut telah merenggut lebih dari 6 juta jiwa di dunia.

Karena itu ilmuwan pun mulai mewaspadainya. Hal ini mengingat secara teratur menguji manusia dan hewan untuk virus yang baru muncul adalah penting untuk memahami risiko penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.

Wabah besar penyakit menular biasanya menjadi sangat meluas setelah banyak melakukan kesalahan antisipasi di awal kemunculannya, kata Emily Gurley, ahli epidemiologi penyakit menular di Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland. “Jika kita secara aktif mencari percikan api itu, maka kita berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk berhenti atau menemukan sesuatu lebih awal.”

Asal Muasal Virus

Tim peneliti mengidentifikasi LayV saat melakukan pemantauan pasien di tiga rumah sakit di Provinsi Shandong dan Henan, China timur, antara April 2018 dan Agustus 2021. Peserta dimasukkan ke dalam penelitian jika mereka demam.

Tim mengurutkan genom LayV dari usap tenggorokan (swab) diambil dari pasien pertama yang diidentifikasi dengan penyakit tersebut, seorang wanita berusia 53 tahun. Virus itu dinamai menurut sebuah kota bernama Langya, di Shandong.

Selama masa penelitian, para peneliti menemukan 35 orang yang terinfeksi LayV, sebagian besar petani, dengan gejala mulai dari pneumonia berat hingga batuk. Sebagian besar pasien mengatakan dalam kuesioner bahwa mereka telah terpapar binatang dalam waktu satu bulan setelah gejala mereka muncul.

Genom LayV menunjukkan bahwa virus tersebut paling dekat hubungannya dengan Mojiang henipavirus, yang pertama kali diisolasi pada tikus di sebuah tambang yang ditinggalkan di Provinsi Yunnan, China selatan, pada 2012. Henipavirus termasuk dalam keluarga virus Paramyxoviridae, yang meliputi campak dan gondok serta banyak virus pernapasan yang menginfeksi manusia.

Beberapa henipavirus lain telah ditemukan pada kelelawar, tikus dan mencit, dari Australia hingga Korea Selatan dan China, tetapi hanya virus bernama Hendra, Nipah dan sekarang LayV yang diketahui menginfeksi manusia. Para peneliti tidak menemukan bukti kuat penyebaran LayV di antara orang-orang dalam rentang waktu yang singkat atau dalam jarak geografis yang dekat.

Untuk menentukan asal hewan potensial virus, para peneliti menguji kambing, anjing, babi, dan sapi yang tinggal di desa-desa pasien yang terinfeksi untuk antibodi terhadap LayV. Juga mengambil sampel jaringan dan urin dari 25 spesies hewan kecil liar untuk mencari keberadaan dari RNA LayV.

Mereka menemukan antibodi LayV pada beberapa kambing dan anjing, dan mengidentifikasi RNA virus LayV pada 27 persen dari 262 sampel tikus. Ini menunjukkan bahwa tikus adalah reservoir untuk virus, menularkan LayV di antara mereka sendiri ‘dan entah bagaimana menginfeksi kepada orang di sana-sini secara kebetulan’, tambah Emily Gurley.

Taiwan kini sedang mengembangkan metode diagnostik PCR untuk virus Langya. Chuang Jen-hsiang, wakil direktur jenderal Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan, mengatakan laboratorium negara telah menerapkan mekanisme pengujian virus melalui cara yang disarankan oleh penelitian.

Indonesia Harus Waspada

Masih perlu banyak penelitian untuk mengetahui bagaimana virus menyebar pada tikus dan bagaimana orang terinfeksi. Selain itu butuh aksi mendesak terhadap sistem pengawasan global untuk mendeteksi limpahan virus dan dengan cepat mengomunikasikan hasil tersebut untuk menghindari kemungkinan terjadinya pandemi, seperti yang dipicu COVID-19.

Indonesia juga perlu lebih mewaspadai penyakit zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan lain ke manusia. Apalagi melalui perantaraan tikus. Hal ini mengingat populasi hewan pengerat ini di Indonesia sangat besar dengan habitat yang beraga dari pesawahan hingga perkotaan.

Seorang pakar tikus dari Cornell University Bobby Corrigan sempat mengungkapkan, hewan pengerat seperti tikus memiliki masa kehamilan yang sangat cepat, yaitu 14 hari. Tikus juga hanya membutuhkan waktu satu bulan setelah dilahirkan untuk bereproduksi. Ini artinya, satu tikus hamil dapat menghasilkan 15.000 hingga 18.000 tikus baru dalam waktu kurang dari satu tahun.

Tikus dapat menyebarkan lebih dari 35 penyakit di seluruh dunia secara langsung pada manusia. Penularannya dapat melalui feses, urine, air liur, atau gigitan. Penyakit yang disebabkan oleh kuman pada tikus juga dapat disebarkan secara tidak langsung melalui kutu, tungau, atau kutu yang memakan tikus.

Penyakit yang berasal dari tikus di antaranya Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), Hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), penyakit pes, Lymphocytic chorio-meningitis (LCM), Rat bite fever (RBF), hingga Leptospirosis.

Penyakit-penyakit yang berasal dari tikus ini bisa jadi akan terus berkembang jenis dan cara penularan. Sehingga selain mencari cara pencegahan dan penangangan secara medis juga harus dibarengi dengan upaya atau gerakan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan membasmi hama tikus di sekitar Anda.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button